Meleburnya Etnis Jawa dan Cina di Kampung Balong tidak terlepas dari upaya keras kedua etnis tersebut untuk menjunjung tinggi harmoni dan merawat nilai-nilai kerukunan serta menghindari konflik sedapat mungkin. Namun tidak boleh dikesampingkan bahwa kerukunan dan integrasi sosial Jawa-Cina di Balong juga di fasilitasi oleh adanya akar-akar budaya dasar yang tersusun menjadi falsafah atau pandangan hidup kedua etnis tersebut. Dengan demikian, terjadi pendekatan kultural di antara kedua etnis tersebut dan hal ini sangat menunjang terjadinya konflik Jawa-Cina di Surakarta lebih karena dominannya pedekatan politik dan rendahnya pendekatan kultural.[1] Berikut diuraikan konsep-konsep dasar tentang keselarasan yang mengakar pada budaya kedua etnis tersebut.
Dalam menjaga harmonitas sosial atau keselarasan itu, Etnis Jawa di Kampung Balong seperti pada umumnya Etnis Jawa yang lain, secara turun-temurun mempertahankan tatanan yang disebut unggah-ungguh atau tatakrama yang menjadikan masyarakat Jawa itu berperasaan.[2] Semula, tata karma itu berada dalam ranah berbahasa dengan aturan agar yang muda menghormati yang lebih tua. Bentuk hormat itu diwujudkan dalam bentuk bahasa krama (bahasa yang dianggap halus dan sopan) dan yang harus dipakai oleh mereka yang lebih muda kepada yang tua. Kemudian tata karma Jawa itu dipakai pedoman sebagai etika paerilaku seperti menjaga hubungan baik dengan orang lain, membantu orang lain sebanyak mungkin, berbagi rejeki dengan tetangga, berusaha mengerti perasaan orang lain dan kemampuan untuk dapat menghayati perasaan orang lain (tepa salira). [3] Dalam masyarakat terlihat orang Jawa itu sangat memperhatikan kesopanan, penghormatan terhadap orang yang dianggap lebih tua disertai sikap yang berhati-hati. Salah satu bentuk sopan santun atau basa-basi pergaulan yang dinilai positif adalah kemampuan orang Jawa untuk bersikap ethok-ethok (pura-pura). Ethok-ethok yang diperlihatkan dalam lingkungan keluarga itu merupakan cara orang Jawa untuk tidak memperlihatkan perasaan-perasaan sebenarnya didalam pergaulan demi menjaga ketertiban agar tetap berlangsung. [4] Dengan demikian tatakrama itu yang pada dasarnya mengatur perilaku bercampur dan berinteraksi dengan orang lain disertai sikap mengalah bila terjadi pertengkaran. Dalam konteks inilah kita memahami ketika orang Jawa berkata dalam sebuah pepatah “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.” Pepatah itu terkait dengan prinsip harmoni orang Jawa adalah bahwa hubungan dengan orang lain patut dijunjung tinggi orang Jawa biasa hidup secara rukun. Tujuan dan prinsip kerukunan ialah untuk mempertahankan keadaan masyarakat yang harmonis. Atas nama prinsip kerukunan, orang Jawa berusaha untuk menghilangkan tanda-tanda ketegangan masyarakat atau antar pribadi, sehingga hubungan sosial tetap tampak harmonis dan baik, meskipun ini relative sifatnya.[5] Karena sifat dasar orang Jawa yang demikian itu, orang Jawa mampu membuat suasana interaksi antar warga lebih nyaman dan harmonis. Seperti yang terdapat di Kampung Balong sifat-sifat yang dijaga orang Jawa menjadikannya mudah diterima dan mudah dalam melakukan relasi antar warga.
Pada pihak lain upaya menjaga kerukunan dan keselarasan juga diperlihatkan etnis Cina di Kampung Balong. Sebagai bagian dari Etnis Cina yang tersebar di mana saja di penjuru dunia ini, maka Etnis Cina di Kampung Balong juga memiliki kecenderungan menjaga tradisi maupun konsep yang mereka warisi turun-temurun, yang telah diupayakan dan diputuskan secara kolektif sejak jaman leluhur mereka, yakni harmonitas dan keselarasan. Konsep rukun bagi Etnis Cina menunjukkan pada pengertian anti kekerasan dan hidup saling tolong menolong. Anti kekerasan pada orang Cina konsep keselaran bagi Etnis Cina, pertama nampak pada konsep Konfusius tentang Te, yaitu menolak pemerintahan dengan kekerasan fisik. Konfusius tidak setuju dengan kaum realis, bahwa satu-satunya pemerintahan yang efektif adalah pemerintahan yang menggunakan kekerasan fisik.[6] Hal itu tercerimin dari masyarakat Kampung Balong, meskipun tidak semua agama mereka adalah Kong Hu Cu namun ajaran ini telah mereka anggap sebagai tradisi Etnis Cina yang telah mendarah daging dan banyak mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan interaksi baik sesama Etnis Cina maupun Etnis Jawa yang ada di Kampung Balong. Orang-orang Cina di Kampung Balong juga percaya bahwa jika kita melakukan kebaikan maka balasannya juga kebaikan. Ajaran Konfusius mendasarkan diri pada sikap saling percaya dan menunjukkan nilai-nilai yang menjauhkan diri dari konflik. Ditambah ajarannya tentang Jen (kebaikan), dan Chun-tzu (suka melayani/menolong orang lain, berjiwa besar), Konfusius benar-benar mengajarkan nilai-nilai kerukunan pada orang Tionghoa.[7]
Konsep keselarasan yang kedua bagi Etnis Cina terdapat pada ajaran Taoisme. Menurut ajaran Taoisme, alam ini merupakan ciptaan yang sangat sempurna. Oleh karena itu, hukum alam dan terjadinya alam dapat dijelaskan dalam ajaran Taoisme. Demikian juga cara hidupnya manusia dapat dipelajari dari ajaran Taoisme tersebut. Dalam ajaran Taoisme menuntut kepada manusia untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam secara sempurna.[8] Jadi apabila kita dapat melihat dalam konsep ajaran Taoisme bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dengan alam, maka dari itu manusia wajib menyelaraskan kehidupannya sesuai dengan hukum alam. Selain itu, keselarasan juga akan terwujud selama manusia menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alamnya.
Konsep yang ketiga dalam membangun keselarasan bagi Etnis Cina terdapat dalam ajaran Budha. Agama Budha atau Budhisme merupakan ajaean atau kepercayaan yang diciptakan oleh seorang anak manusia yang meliputi petunjuk-petunjuk kehidupan di dunia ini. Agama Budha bagi orang Cina merupakan suatu agama yang dibwakan oleh orang luar negara Cina. Ajaran Budah yang dibawakan dari India disesuaikan dengan budaya dan peradaban Cina sehingga agama Budha sampai saat ini masih dan berkembang di negara Cina maupun oleh Cina Perantauan.[9] Pengaruh Budhisme dalam kehidupan etnis Cina nampak jelas pada praktik sistem meditasi, hidup disiplin, dan membina persahabatan sesama manusia.
Dalam membicarakan tentang filsafat Cina, ada tiga temuan yang terdapat dalam filsafat Cina, yakni :
a) Harmoni : antara manusia dan sesama, antara manusia dengan alam, antara manusia dan surga. Kecenderungan menghindari konflik dan lebih memilih mencari jalan tengah.
b) Toleransi : nampak pada keterbukaan terhadap pendapat yang berbeda. Ini memungkinkan hidupnya pluralis dan mampu membaur dengan cepat.
c) Kemanusiaan : manusia mengejar kebahagiaan di dunia dengan mengembangkan diri dalam interaksi dengan alam dan sesama.
[1] Ma’aruf Jamuin 2001, Memupus Silang Sengketa Relasi Jawa Tionghoa, Solo : Ciscore dan TAF, halaman 3.
[2] Roqib Moh, 2007, Harmoni Dalam Budaya Jawa, Purwokerto : STAIN Purwokerto Press, halaman 57.
[3] Ibid
[4] Maria A. Sarjono, 1992, Paham Jawa : Menguak Falsafah Hidup Orang Jawa Lewat Karya Fiksi Mutakhir Indonesia, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, halaman 22.
[5] Hariyono, 1993, Kultur Cina dan Jawa : Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural, Jakarta: Sinar Harapan, halaman 44.
[6] Ibid, halaman 47.
[7] Ibid, halaman 48.
[8] Rani Usman,2009, Etnis Cina Perantauan di Aceh, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, halaman 77.
[9] Ibid, halaman 87
Tidak ada komentar:
Posting Komentar