Menurut Hidayat Suryalaga atau yang dikenal dengan Abah Surya, mantan Rektor Itenas Bandung, legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (sungging perbangkara) bagi siapa pun yang (tumbuhan cariang) masih bimbang akan keberadaan dirinya, dan berkeinginan menemukan jati diri kemanusiaannya (wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (teropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi kebimbangan yang terus (digagahi si Tumang) akan melahirkan ego, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang).
Ketika sang nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang), maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami sang nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio sang ego (kepala Sangkuriangdipukul). Kesombongannya pula yang memengaruhi sang ego rasio untuk menjauhi dan meninggalkan sang nurani. Ternyata, keangkuhan sang ego rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah timur), pada akhirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak selalu dicari dan dirindukannya, yaitu sang nurani (pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).
Walau demikian, ternyata penyatuan antara sang ego rasio (Sangkuriang) dengan sang nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya, sang ego rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency silih asih, asah, dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum).
Sementara itu, keutuhan jati dirinya pun harus dibentuk oleh sang ego rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan sang ego rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberadaannya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang ego rasio pun harus menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri), dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang, dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (Gunung Burangrang).
Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya sang ego rasio dengan sang nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rangrang atau kain kafan). Akhirnya, suratan takdir yang menimpa sang ego rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada dirinya. Maka, ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu
Walau demikian, lantaran sang ego rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus sang nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara sang ego rasio dengan sang nurani. Tapi, ternyata sang nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami sang ego rasio (bunga jaksi).
Akhir kisah, yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (Gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan, bahasa Sunda: hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu halal, bersih, dan bermanfaat (sanghyang tikoro: kerongkongan, genggerong).
Ketika sang nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang), maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami sang nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio sang ego (kepala Sangkuriangdipukul). Kesombongannya pula yang memengaruhi sang ego rasio untuk menjauhi dan meninggalkan sang nurani. Ternyata, keangkuhan sang ego rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah timur), pada akhirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak selalu dicari dan dirindukannya, yaitu sang nurani (pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).
Walau demikian, ternyata penyatuan antara sang ego rasio (Sangkuriang) dengan sang nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya, sang ego rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency silih asih, asah, dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum).
Sementara itu, keutuhan jati dirinya pun harus dibentuk oleh sang ego rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan sang ego rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberadaannya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang ego rasio pun harus menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri), dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang, dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (Gunung Burangrang).
Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya sang ego rasio dengan sang nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rangrang atau kain kafan). Akhirnya, suratan takdir yang menimpa sang ego rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada dirinya. Maka, ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu
Walau demikian, lantaran sang ego rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus sang nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara sang ego rasio dengan sang nurani. Tapi, ternyata sang nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami sang ego rasio (bunga jaksi).
Akhir kisah, yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (Gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan, bahasa Sunda: hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu halal, bersih, dan bermanfaat (sanghyang tikoro: kerongkongan, genggerong).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar