Laman

Sabtu, 17 Desember 2011

Tips Merawat Kelinci Untuk Pemula

  1. Jangan membeli kelinci anakan di bawah umur 2 bulan. Itu akan mengakibatkan kelinci mudah mati karena kekebalan tubuhnya rentan.
  2. Kelinci di petshop atau pinggir jalan sering dikatakan umur 1 bulan, bahkan ada yang bilang 2 bulan. Kita tidak tahu betul akan hal itu sebab kita tidak menerima kalender kelahiran. Para pedagang sering berbohong dengan mengatakan kelinci umur 1 bulan, padahal kecil-kecil, biasanya baru umur 20-25 hari. Kalau 2 bulan saja tidak diperbolehkan dibeli, maka 1 bulan jelas lebih gawat.
  3. Kelinci di bawah umur 3 bulan sangat rawan dibawa pergi jauh melewati 100 km perjalanan.
  4. Jangan percaya kelinci tidak boleh dikasih air minum. Semua makhluk hidup butuh air minum, terlebih kelinci anakan yang baru saja dipisahkan dari induknya.
  5. Jangan percaya bahwa kelinci kebutuhan air minumnya cukup dari rumput. Itu kacau, sebab rumput layu kadar airnya sangat minim sementara kebutuhan untuk melancarkan pencernaan dengan air dan kebutuhan kencing sangat banyak. Air putih matang atau mentah sangat dibutuhkan kelinci.
  6. Kangkung bukan pakan terbaik. Setiap pohon berjenis berbambu berpotensi menyimpan gas. Jangan terkecoh pada kesukaan kelinci. Kelinci suka kangkung karena lapar dan tidak ada pakan lain. Kalau sudah lapar apapun jadi.
  7. Kangkung dan kubis menyimpan potensi gas yang tinggi dan mengakibatkan air kencing bau (amoniak).
  8. Jangan percaya bahwa musim hujan banyak mengakibatkan kematian. Bukan soal musim hujannya, tetapi kelembabab dan kebersihan yang jadi masalah. Kalau bisa ditangani secara baik dijamin tidak akan banyak kematian.
  9. Pakan kelinci adalah rumput. Anak kelinci di bawah 3 bulan lebih cocok rumput ketimbang pelet. Pemberian pelet (atau pakan padat lain) seperti ampas tahu atau bekatul boleh tetapi hanya sedikit. Baru setelah umur 2,5 bulan boleh lebih banyak (sekitar 50 gram) sedang kelinci di atas 3 bulan bisa 100gram per hari. Kelinci anak lebih cocok rumput karena sistem pencernaannya masih labil. Kalau banyak pelet jadi berat, terlebih jika tidak diberi air minum.
  10. Penyebab kudis/budugen hanya satu sebab, yakni karena kandang jorok. Kuku kelinci yang sering menginjak kotoran biasanya menularkan penyakit kudis itu ke telinga. Solusi kebersihan sebagai syarat mutlak. Kaki/kuku kelinci perlu dibersihkan dengan air hangat supaya kuman/kutu pada mati. Kalau perlu dipotong kukunya biar lebih aman.
  11. Wortel (bersih) sangat baik bagi Kelinci Anakan maupun kelinci dewasa. Gizi wortel tinggi sehingga anakan kelinci pun sangat perlu memakan wortel. Hindari wortel kotor dan busuk sebab bisa jadi penyakit pencernaan.
  12. Jangan percaya bahwa kelinci anakan bisa dibawa pergi jauh. Itu akan membuat celaka sebab kelinci anakan di bawah 2 bulan masih sangat rawan stres. Stres mengakibatkan pencernaan terganggu, terlebih jika kurang air minum dan kurang serat (rumput).
  13. Jangan percaya air membuat kelinci mati. Itu teori bodoh. Bukan airnya yang membuat mati, melainkan karena penyakit. Penyakit kelinci yang ditimbulkan oleh bateri, protozoa atau kuman bisa muncul dari mana saja. Termasuk air. Pastikan air itu bersih. Kalau kena kotoran segera ganti yang bersih.
  14. Jangan percaya setiap jenis kelinci yang dijual umum itu keturunan ras murni. Kita tidak tahu soal kawin silang. Pada umur 1 bulan kelinci bisa jadi nampak murni, tetapi pada dewasa kelak jenisnya jadi aneh-aneh. Biasanya sudah terjadi perkawinan silang. Kalau mau dapat bibit yang baik sesuai keinginan mesti melihat induknya langsung.
  15. Jangan membawa kelinci di perjalanan dengan kardus sebab kardus menimbulkan panas dan sumpek. Banyak kejadian kelinci pada mati. Kalaupun hidup hanya beberapa hari selanjutnya mati karena pengaruh banyak hal, seperti stress dipisah dari induk, perjalanan jauh, dehidrasi (kekurangan air) atau stres karena kepadatan kelinci.
*Diambil dari berbagai sumber_kurang lebih isinya sama.

Rabu, 23 November 2011

Resensi Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa

Buku Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa (1999) karya Leo Suryadinata merupakan sebuah buku yang menjelaskan tentang identitas etnis Tionghoa dan partisipasinya dalam politik di Asia Tenggara, bukan hanya Indonesia melainkan beberapa negara tetangga meliputi Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam. Dengan studi perbandingan penulis buku ini menjelaskan bagaimana etnis Tionghoa  mengikuti kebijakan politik yang diterapkan oleh pemerintah dari negara-negara tersebut. Kandungan dalam tulisan ini yang pertama mengemukakan pencarian identitas nasional orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara pada setengah abad terakhir dan berbagai upaya pemerintah setempat untuk mengintegrasikan mereka ke dalam sebuah bangsa. Tulisan kedua memaparkan partisipasi politik orang Tionghoa di empat Negara ASEAN, dengan memperlihatkan pola berbeda yang didasarkan pada kondisi mereka yang berbeda pula. Tulisan ketiga adalah sebuah diskusi komparatif tentang kebijakan pembangunan bengsa terhadap orang Tionghoa di Malaysia dan Indonesia. Berbagai faktor yang berbeda dikedua Negara tersebut mengakibatkan hasil yang berbeda pula dalam pembangunan bangsa kedua Negara. Tulisan keempat juga menguraikan isu etnis di Negara yang sama dengan focus pada pentingnya pemribumian dan relevansinya terhadap etnis Tionghoa. Bahkan, isu etnis Tionghoa dan pembangunan bangsa tidak dapat dipisahkan dari berbagai factor ekonomi. Kekuasaan ekonomi yang kuat dari etnis Tionghoa sering dianggap oleh populasi pribumi sebagai penghalang terhadap penciptaan sebuah bangsa. Tulisan kelima mengulas kebijakan pemerintah Indonesia terhadap minoritas pribumi dan etnis Tionghoa dalam kerangka pembangunan bangsa. Sementara pemerintah melaksanakan kebijakan akomodatif terhadap berbagai kelompok minoritas pribumi, pemerintah telah melakukan politik asimilasi terhadap etnis Tionghoa . namun hingga batas tertentu orang Tionghoa masih mempertahankan identitas etnis karena Indonesia adalah sebuah Negara berdasarkan ideologi negara Pancasila yang mengakui kebebasan beragama. Tulisan keenam menguraikan faktor Cina dan dampaknya terhadap minoritas Cina Indonesia. Tulisan ini juga mengungkapkan pengaruh faktor etnis Tionghoa terhadap hubungan diplomatik Cina – Indonesia. Dimensi eksternal ini telah memberikan perspektif penting terhadap integrasi nasional orang Tionghoa di sebuah Negara di Asia Tenggara. Tulisan terakhir meneliti kebijakan Cina terhadap orang Tionghoa di Asia Tenggara, dengan jelas memperlihatkan bahwa terdapat kesinambungan dan perubahan selama lebih dari satu abad. Bahkan kebijakan Cina terhadap “Tionghoa perantauan” merupakan faktor penting yang mempengaruhi integrasi nasional etnis Tionghoa di Asia Tenggara.

Judul Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa, Penulis : Leo Suryadinata, Tahun : 1999, Penerbit : Pustaka LP3ES Indonesia.