Hubungan Cina-Jawa terwujud dalam interaksi yang integratif di Kampung Balong, sesungguhnya dapat ditelusuri melalui upaya dari kedua etnis tersebut untuk saling menjaga kerukunan dan kesatuan. Kesatuan itu sendiri mereka gambarkan seperti kue ampyang yaitu penganan yang terbuat dari kacang dan gula Jawa. Kacang adalah representasi dari Etnis Cina, sebab istilah kacang itu sendiri berasal dari bahasa Cina. Sementara itu, gula Jawa adalah representasi dari Etnis Jawa. Seperti halnya kacang dan gula Jawa melebur menjadi satu dalam kue ampyang begitu pula Jawa dan Cina di Kampung Balong melebur ke dalam satu identitas yakni “Wong Balong” baik dalam pembauran budaya, perkawinan campur maupun pergaulan hidup sehari-hari.
Bukan sekedar sebagai slogan, persatuan itu memang merasionalkan dalam kehidupan nyata. Pembauran yang terbentuk memudahkan jalan bagi perkawinan campur dan hal ini terjadi karena pembauran terdapat kesan, seperti yang sering diucapkan oleh para pelaku perkawinan campur yaitu: “Jawa apa Cina pada wae” (Jawa atau Cina sama saja).[1] Menarik untuk dicatat, dan hal ini memberikan perbedaan yang mencolok antara Etnis Cina di Kampung Balong dengan Etnis Cina di bagian lain wilayah Surakarta, adalah mengentalnya penggunaan Bahasa Jawa, terutama Jawa Ngoko dan Bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari Etnis Cina di Balong. Sekat atau dinding pemisah yang biasanya terbentang luas dalam hubungan Jawa-Cina sebagaimana terjadi di tempat lain, tidak muncul di Kampung Balong. Seperti yang dituturkan pak Toni, salah satu warga Kampung Balong, suasana pergaulan dan interaksi antara orang Jawa dan orang Cina di Kampung Balong tidak memperlihatkan adanya perbedaan baik secara bahasa bahkan secara fisik.[2] Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa dan perilaku orang-orang Jawa yang kadang senang menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Cina maupun perilaku yang dimaksud adalah mendengarkan nyanyian atau lagu-lagu berbahasa Mandarin. Kemudian banyak ditemui juga orang-orang yang secara fisik sangat mirip dengan orang Jawa dan sedikitpun tidak menunjukkan cirri-ciri sebagai orang Cina justru sebenarnya adalah orang Cina singkek.[3] Cina Singkek bisa diartikan sebagai ciri bagi orang yang unsur Cina-nya masih terlihat seperti dalam penggunaan bahasa. Seperti keterangan pak Adji Candra dalam sebuah surat kabar bahwa Singkek (Xinkhe) biasanya merupakan label bagi Etnis Cina pendatang baru dan belum fasih berbahasa Indonesia. Xinkhe biasanya pelo, jika sekarang masih ada usianya sekitar 70-80 tahun.[4] Singkek lebih diidentikkan dengan Cina Totok namun pada kenyataannya, seperti keterangan di atas bahwa secara fisik antara orang Jawa dan Cina sudah agak sulit untuk dibedakan atau bahkan dapat dikatakan tidak ada perbedaan sama sekali. Dilihat dari realitas yang ada, jadi sebenarnya tak ada lagi jarak yang sangat mencolok tentang pengertian ras dalam masyarakat Kampung Balong, seperti yang diungkapkan diatas bahwa Cina ataupun Jawa itu sama saja.
|
Proses Interaksi Jawa-Cina di Kampung Balong (Sumber : Dwi Ari Wibowo, 7 Oktober 2011) |
Kesan yang timbul dari pengamatan kehidupan orang-orang Cina di Kampung Balong sedikit berbeda dari apa yang kemukakan Denis Lombart dalam bukunya Nusa Jawa : Silang Budaya jilid kedua dimana menurutnya Orang Cina adalah warga kota yang dingin dalam pekerjaan namun sangat mendambakan kehidupan yang nyaman. Karena sedikit sekali memikirkan hidup prihatin, mereka tidak segan-segan untuk makan enak dan menghibur diri. Mereka menghitung upaya kerja mereka sesuai dengan kesantaian atau pesta yang harus menyertai atau mengimbalinya. Dalam hal itu, mereka lebih mirip orang Barat yang memang dengan cepat dapat menikmati masakan, keramik dan perabotan mereka. Berbeda dengan orang Jawa, Sunda, dan Melayu[5]. Realitas kehidupan orang-orang Cina di Kampung Balong berbeda dari kehidupan orang-orang Cina di kota lainnya yang lebih kaya atau mapan secara materiil. Mereka yang hidup di Kampung Balong sangat jauh dari kesan memiliki kehidupan yang mapan. Untuk memasak saja orang-orang yang tinggal di Kampung Balong melakukannya di depan rumah (karena keadaan rumah yang sempit) bahkan untuk makan terkadang didapat dari pemberian tetangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar