Laman

Rabu, 23 November 2011

Resensi Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa

Buku Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa (1999) karya Leo Suryadinata merupakan sebuah buku yang menjelaskan tentang identitas etnis Tionghoa dan partisipasinya dalam politik di Asia Tenggara, bukan hanya Indonesia melainkan beberapa negara tetangga meliputi Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam. Dengan studi perbandingan penulis buku ini menjelaskan bagaimana etnis Tionghoa  mengikuti kebijakan politik yang diterapkan oleh pemerintah dari negara-negara tersebut. Kandungan dalam tulisan ini yang pertama mengemukakan pencarian identitas nasional orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara pada setengah abad terakhir dan berbagai upaya pemerintah setempat untuk mengintegrasikan mereka ke dalam sebuah bangsa. Tulisan kedua memaparkan partisipasi politik orang Tionghoa di empat Negara ASEAN, dengan memperlihatkan pola berbeda yang didasarkan pada kondisi mereka yang berbeda pula. Tulisan ketiga adalah sebuah diskusi komparatif tentang kebijakan pembangunan bengsa terhadap orang Tionghoa di Malaysia dan Indonesia. Berbagai faktor yang berbeda dikedua Negara tersebut mengakibatkan hasil yang berbeda pula dalam pembangunan bangsa kedua Negara. Tulisan keempat juga menguraikan isu etnis di Negara yang sama dengan focus pada pentingnya pemribumian dan relevansinya terhadap etnis Tionghoa. Bahkan, isu etnis Tionghoa dan pembangunan bangsa tidak dapat dipisahkan dari berbagai factor ekonomi. Kekuasaan ekonomi yang kuat dari etnis Tionghoa sering dianggap oleh populasi pribumi sebagai penghalang terhadap penciptaan sebuah bangsa. Tulisan kelima mengulas kebijakan pemerintah Indonesia terhadap minoritas pribumi dan etnis Tionghoa dalam kerangka pembangunan bangsa. Sementara pemerintah melaksanakan kebijakan akomodatif terhadap berbagai kelompok minoritas pribumi, pemerintah telah melakukan politik asimilasi terhadap etnis Tionghoa . namun hingga batas tertentu orang Tionghoa masih mempertahankan identitas etnis karena Indonesia adalah sebuah Negara berdasarkan ideologi negara Pancasila yang mengakui kebebasan beragama. Tulisan keenam menguraikan faktor Cina dan dampaknya terhadap minoritas Cina Indonesia. Tulisan ini juga mengungkapkan pengaruh faktor etnis Tionghoa terhadap hubungan diplomatik Cina – Indonesia. Dimensi eksternal ini telah memberikan perspektif penting terhadap integrasi nasional orang Tionghoa di sebuah Negara di Asia Tenggara. Tulisan terakhir meneliti kebijakan Cina terhadap orang Tionghoa di Asia Tenggara, dengan jelas memperlihatkan bahwa terdapat kesinambungan dan perubahan selama lebih dari satu abad. Bahkan kebijakan Cina terhadap “Tionghoa perantauan” merupakan faktor penting yang mempengaruhi integrasi nasional etnis Tionghoa di Asia Tenggara.

Judul Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa, Penulis : Leo Suryadinata, Tahun : 1999, Penerbit : Pustaka LP3ES Indonesia.

Rabu, 16 November 2011

Budaya Merantau Orang Minang

Ada sebuah anekdot, bahwa ketika Neil Amstrong mendarat di Bulan bersama Apallo 11, 38 tahun silam, ia sangat terkejut mendapati orang Minang sudah lebih duluan sampai di sana untuk membuka rumah makan Padang.
 
Orang Minang memang ada di mana-mana di berbagai pelosok Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Mereka terkenal karena memiliki budaya merantau. Suatu budaya yang hanya dimiliki oleh suku bangsa tertentu saja di Indonesia. Selain suku bangsa Minangkabau, etnis yang juga mempunyai budaya merantau adalah  Bugis, Banjar, Batak, sebagian orang  Jawa dan  Madura.Budaya merantau orang Minangkabau sudah tumbuh dan berkembang sejak berabad-abad silam. Para pengelana awal bangsa Eropa yang mengunjungi Asia Tenggara mencatat bahwa orang Minangkabau sudah merantau ke Semenanjung Melayu jauh sebelum orang-orang kulit putih datang ke sana. Bahkan, sebuah laporan pertengahan Abad ke-19 yang tersimpan dalam arsip di Perpustakaan Leiden, Negeri Belanda, menyebutkan tentang “The Minangkabau State in Malay Peninsula” (Negara Minangkabau di Semenanjung Malaya). Negeri itulah yang kemudian kita kenal sebagai Negeri Sembilan, salah satu Kerajaan yang mendirikan Negara Federasi Malaysia. Jadi, mereka sudah mendirikan sebuah negara di Semenanjung Malaya sebelum berdiri di barisan terdepan dalam mendirikan Negara Republik Indonesia.

Tradisi merantau orang Minang terbangun dari budaya yang dinamis, egaliter, mandiri dan berjiwa merdeka. Ditambah kemampuan bersilat lidah (berkomunikasi) sebagai salah satu ciri khas mereka yang membuatnya mudah beradaptasi dengan suku bangsa mana saja. Banyak hasil studi para sarjana asing maupun ilmuwan nasional menunjukkan bahwa budaya merantau orang Minang sudah muncul dan berkembang sejak berabad-abad silam. Budaya yang unik ini sering dikaitkan dengan pantun yang berbunyi:

Karatau madang di hulu

Babuah babungo balun

Marantau Bujang dahulu

Di kampuang baguno balun 

"Keratau madang di hulu

Berbuah berbunga belum

Merantau Bujang dahulu

Di kampung berguna belum"


Dalam konsep budaya Alam Minangkabau dikenal wilayah inti (darek) dan rantau (daerah luar). Rantau secara tradisional adalah wilayah ekspansi, daerah perluasan atau daerah taklukan. Namun perkembangannya belakangan, konsep rantau dilihat sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik dikaitkan dengan konteks sosial ekonomi dan bukan dalam konteks politik. Berdasarkan konsep tersebut, merantau adalah untuk pengembangan diri dan mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Dengan demikian, tujuan merantau sering dikaitkan dengan tiga hal: mencari harta (berdagang/menjadi saudagar), mencari ilmu (belajar), atau mencari pangkat (pekerjaan/jabatan) (Navis, 1999)Sebagai sebuah pola migrasi (perpindahan penduduk) secara sukarela, atas kemauan sendiri, maka merantau orang Minang berbeda dengan, katakanlah, merantau orang Jawa yang melalui proses transmigrasi –diprogramkan dan dibiayai pemerintah. Orang Minang merantau dengan kemauan dan kemampuannya sendiri. Mereka melihat proses ini semacam penjelajahan, proses hijrah, untuk membangun kehidupan yang lebih baik (lihat Mochtar Naim, 1984).

Dalam alam pikiran orang Minangkabau –analog dengan dunia agraris– kampung halaman atau tanah kelahiran ibaratnya persemaian yang berfungsi untuk menumbuhkan bibit. Setelah bibit tumbuh, mereka harus keluar dari persemaian ke lahan yang lebih luas agar menjadi pohon yang besar kemudian berbuah. Proses seperti inilah yang dialami dan kemudian terlihat pada tokoh-tokoh asal Minang yang berkiprah di “dunia” yang jauh lebih luas seperti Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Hamka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, atau generasi yang lebih belakangan –lahir, tumbuh, mengalami masa kecil dan remaja di kampung, lalu pergi merantau dan “menjadi orang”.

sumber : http://www.masagala.co.cc/budaya-merantau-orang-minang.html