Kabar Indonesia - Buat yang belum tahu, Meester Cornelis adalah sebuah kawasan di wilayah yang kini tergabung dalam Kotamadya Jakarta Timur. Kondektur bus-bus maupun metro mini yang lewat kawasan itu masih sering berteriak memberitahu penumpang bahwa angkutan itu sudah sampai di, "Mester, Mester."
Di situ ada pasar yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Di sana juga ada kantor pos yang sudah berdiri sejak lama, stasiun kereta api, gereja, dan area militer, yang juga telah berdiri sejak Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Ya, itulah Meester Cornelis yang kini dikenal dengan nama Jatinegara.
Jatinegara atau yang dulu dikenal dengan nama Meester Cornelis adalah sebuah kawasan yang awalnya dimiliki seorang kaya bernama Meester Cornelis Senen, seorang asal Pulau Lontar, Banda, yang kemudian dikirim ke Batavia (sekarang bernama Jakarta) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1621.
Dalam bukunya Gereja-gereja Tua di Jakarta (terbitan tahun 2003), Adolf Heuken SJ mengungkapkan bahwa Cornelis Senen adalah anak dari keluarga yang cukup kaya dari Pulau Lontar, Banda. Cornelis Senen belakangan menjadi seorang guru agama Kristen. Pada tahun 1635, Cornelis Senen membuka sekolah, memimpin doa, dan membaca khotbah dalam Bahasa Melayu. Belakangan, dia juga memimpin khotbah dalam Bahasa Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat Cornelis Senen mendapat tambahan gelar Meester di depan namanya. Dia juga menjabat sebagai Kepala Kampung Banda di Batavia.
Setelah sepuluh tahun melayani umat Kristen berbahasa Melayu dan Portugis, maka dia diangkat menjadi proponent, calon pendeta. Dia juga mengajar katekisasi (pelajaran sebelum seseorang di-sidi atau diteguhkan sebagai orang Kristen dewasa). Sayangnya, dia ditolak ketika hendak menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657. Bisa jadi, hal itu karena Cornelis Senen adalah seorang bumiputera dan bukan bangsa Belanda.
Namun Meester Cornelis Senen masih diberikan hak istimewa untuk menebang pohon di tepi Kali Ciliwung yang letaknya sekitar 15 sampai 20 kilometer dari kota Batavia (kawasan Jakarta Kota saat ini). Di tempat itu, dia juga mempunyai sebuah tanah luas penuh pepohonan pada tahun 1661. Kayu dari pohon yang ditebang, dikirim ke kota dengan cara dihanyutkan lewat Kali Ciliwung. Kayu-kayu itu kemudian dipakai menjadi bahan untuk membangun rumah dan kapal-kapal niaga. Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis.
Belakangan, kawasan itu menjadi suatu kotapraja tersendiri, bahkan Kota dan Kabupaten Bekasi sekarang, di zaman Hindia-Belanda masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis.
Sampai kini Jatinegara masih menyisakan bangunan-bangunan bersejarah, di antaranya Stasiun Kereta Api Jatinegara, Gereja GPIB Koinonia (dulu dikenal dengan nama Gereja Bethel), beberapa bangunan tentara milik TNI-AD, Kantor Pos Jatinegara, dan yang agak mengenaskan karena kurang terurus adalah bekas kediaman bupati (regent) yang terletak di dekat Stasiun Kereta Api Jatinegara.
Bagi yang mau tahu tentang sebagian sejarah Meester Cornelis yang kini bernama Jatinegara, saat ini dapat datang ke Kantor Filateli Jakarta di Jalan Pos No.2, Jakarta Pusat. Saat ini, di tempat tersebut sedang diselenggarakan Pameran Filateli Remaja yang pemenangnya akan dikirim untuk mengikuti Youth ASEAN Stamp (YAS) Exhibition 2007 di Singapura, Agustus mendatang.
Dalam pameran yang diadakan dari 29 sampai 31 Maret 2007, ditampilkan pula koleksi dari seorang filatelis senior asal Jatinegara, Jakarta Timur, yang merupakan koleksi court of honour dan bukan diikutkan dalam penilaian. Koleksi itu berjudul From Meester Cornelis to Jakarta Jatinegara. Dalam koleksi itu, ditampilkan prangko, kartu pos, dan sampul surat yang mempunyai cap (stempel) pos Meester Cornelis sejak akhir tahun 1800-an sampai cap (stempel) pos Jatinegara sampai tahun 1990-an. Termasuk pula cap (stempel) pos Djatinegara saat zaman pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan RI.
Sebuah koleksi yang sarat sejarah dan patut untuk disaksikan.
Oleh : Berthold Sinaulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar