<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402</id><updated>2011-12-17T16:49:35.723-08:00</updated><category term='musim gugur'/><category term='harmanisasi antar etnis'/><category term='buku'/><category term='harmonisasi antar etnis'/><category term='pengalaman'/><category term='kampung pecinan'/><category term='inspiratif'/><category term='tentang wanita'/><category term='Dunia Kelinci'/><category term='budaya'/><title type='text'>SENOPATI KEMPOT</title><subtitle type='html'>Merasa menjadi manusia yang paling benar adalah manusiawi namun juga merupakan pemikiran yang sedikit bodoh. Dunia ini bukan cuma milik kita sendiri, usaha terbaik ialah mencoba melihat dunia dan hal-hal disekitar dengan kacamata orang lain.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-3887935329490966353</id><published>2011-12-17T16:49:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T16:49:35.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Kelinci'/><title type='text'>Tips Merawat Kelinci Untuk Pemula</title><content type='html'>&lt;ol style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;li&gt;Jangan membeli kelinci anakan di bawah umur 2 bulan. Itu akan mengakibatkan kelinci mudah mati karena kekebalan tubuhnya rentan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelinci di petshop atau pinggir jalan sering dikatakan umur 1 bulan, bahkan ada yang bilang 2 bulan. Kita tidak tahu betul akan hal itu sebab kita tidak menerima kalender kelahiran. Para pedagang sering berbohong dengan mengatakan kelinci umur 1 bulan, padahal kecil-kecil, biasanya baru umur 20-25 hari. Kalau 2 bulan saja tidak diperbolehkan dibeli, maka 1 bulan jelas lebih gawat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelinci di bawah umur 3 bulan sangat rawan dibawa pergi jauh melewati 100 km perjalanan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan percaya kelinci tidak boleh dikasih air minum. Semua makhluk hidup butuh air minum, terlebih kelinci anakan yang baru saja dipisahkan dari induknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan percaya bahwa kelinci kebutuhan air minumnya cukup dari rumput. Itu kacau, sebab rumput layu kadar airnya sangat minim sementara kebutuhan untuk melancarkan pencernaan dengan air dan kebutuhan kencing sangat banyak. Air putih matang atau mentah sangat dibutuhkan kelinci.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kangkung bukan pakan terbaik. Setiap pohon berjenis berbambu berpotensi menyimpan gas. Jangan terkecoh pada kesukaan kelinci. Kelinci suka kangkung karena lapar dan tidak ada pakan lain. Kalau sudah lapar apapun jadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kangkung dan kubis menyimpan potensi gas yang tinggi dan mengakibatkan air kencing bau (amoniak).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan percaya bahwa musim hujan banyak mengakibatkan kematian. Bukan soal musim hujannya, tetapi kelembabab dan kebersihan yang jadi masalah. Kalau bisa ditangani secara baik dijamin tidak akan banyak kematian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pakan kelinci adalah rumput. Anak kelinci di bawah 3 bulan lebih cocok rumput ketimbang pelet. Pemberian pelet (atau pakan padat lain) seperti ampas tahu atau bekatul boleh tetapi hanya sedikit. Baru setelah umur 2,5 bulan boleh lebih banyak (sekitar 50 gram) sedang kelinci di atas 3 bulan bisa 100gram per hari. Kelinci anak lebih cocok rumput karena sistem pencernaannya masih labil. Kalau banyak pelet jadi berat, terlebih jika tidak diberi air minum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyebab kudis/budugen hanya satu sebab, yakni karena kandang jorok. Kuku kelinci yang sering menginjak kotoran biasanya menularkan penyakit kudis itu ke telinga. Solusi kebersihan sebagai syarat mutlak. Kaki/kuku kelinci perlu dibersihkan dengan air hangat supaya kuman/kutu pada mati. Kalau perlu dipotong kukunya biar lebih aman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wortel (bersih) sangat baik bagi Kelinci Anakan maupun kelinci dewasa. Gizi wortel tinggi sehingga anakan kelinci pun sangat perlu memakan wortel. Hindari wortel kotor dan busuk sebab bisa jadi penyakit pencernaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan percaya bahwa kelinci anakan bisa dibawa pergi jauh. Itu akan membuat celaka sebab kelinci anakan di bawah 2 bulan masih sangat rawan stres. Stres mengakibatkan pencernaan terganggu, terlebih jika kurang air minum dan kurang serat (rumput).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan percaya air membuat kelinci mati. Itu teori bodoh. Bukan airnya yang membuat mati, melainkan karena penyakit. Penyakit kelinci yang ditimbulkan oleh bateri, protozoa atau kuman bisa muncul dari mana saja. Termasuk air. Pastikan air itu bersih. Kalau kena kotoran segera ganti yang bersih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan percaya setiap jenis kelinci yang dijual umum itu keturunan ras murni. Kita tidak tahu soal kawin silang. Pada umur 1 bulan kelinci bisa jadi nampak murni, tetapi pada dewasa kelak jenisnya jadi aneh-aneh. Biasanya sudah terjadi perkawinan silang. Kalau mau dapat bibit yang baik sesuai keinginan mesti melihat induknya langsung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan membawa kelinci di perjalanan dengan kardus sebab kardus menimbulkan panas dan sumpek. Banyak kejadian kelinci pada mati. Kalaupun hidup hanya beberapa hari selanjutnya mati karena pengaruh banyak hal, seperti stress dipisah dari induk, perjalanan jauh, dehidrasi (kekurangan air) atau stres karena kepadatan kelinci.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;*Diambil dari berbagai sumber_kurang lebih isinya sama. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-3887935329490966353?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/3887935329490966353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/12/tips-merawat-kelinci-untuk-pemula.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/3887935329490966353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/3887935329490966353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/12/tips-merawat-kelinci-untuk-pemula.html' title='Tips Merawat Kelinci Untuk Pemula'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-432255049404242933</id><published>2011-11-23T07:55:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T08:27:16.163-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Resensi Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin m:val="0"&gt;&lt;m:rmargin m:val="0"&gt;&lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;&lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;&lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Buku &lt;i&gt;Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa&lt;/i&gt; (1999) karya Leo Suryadinata merupakan sebuah buku yang menjelaskan tentang identitas etnis Tionghoa dan partisipasinya dalam politik di Asia Tenggara, bukan hanya Indonesia melainkan beberapa negara tetangga meliputi Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam. Dengan studi perbandingan penulis buku ini menjelaskan bagaimana etnis Tionghoa&amp;nbsp; mengikuti kebijakan politik yang diterapkan oleh pemerintah dari negara-negara tersebut. Kandungan dalam tulisan ini yang pertama mengemukakan pencarian identitas nasional orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara pada setengah abad terakhir dan berbagai upaya pemerintah setempat untuk mengintegrasikan mereka ke dalam sebuah bangsa. Tulisan kedua memaparkan partisipasi politik orang Tionghoa di empat Negara ASEAN, dengan memperlihatkan pola berbeda yang didasarkan pada kondisi mereka yang berbeda pula. Tulisan ketiga adalah sebuah diskusi komparatif tentang kebijakan pembangunan bengsa terhadap orang Tionghoa di Malaysia dan Indonesia. Berbagai faktor yang berbeda dikedua Negara tersebut mengakibatkan hasil yang berbeda pula dalam pembangunan bangsa kedua Negara. Tulisan keempat juga menguraikan isu etnis di Negara yang sama dengan focus pada pentingnya pemribumian dan relevansinya terhadap etnis Tionghoa. Bahkan, isu etnis Tionghoa dan pembangunan bangsa tidak dapat dipisahkan dari berbagai factor ekonomi. Kekuasaan ekonomi yang kuat dari etnis Tionghoa sering dianggap oleh populasi pribumi sebagai penghalang terhadap penciptaan sebuah bangsa. Tulisan kelima mengulas kebijakan pemerintah Indonesia terhadap minoritas pribumi dan etnis Tionghoa dalam kerangka pembangunan bangsa. Sementara pemerintah melaksanakan kebijakan akomodatif terhadap berbagai kelompok minoritas pribumi, pemerintah telah melakukan politik asimilasi terhadap etnis Tionghoa . namun hingga batas tertentu orang Tionghoa masih mempertahankan identitas etnis karena Indonesia adalah sebuah Negara berdasarkan ideologi negara Pancasila yang mengakui kebebasan beragama. Tulisan keenam menguraikan faktor Cina dan dampaknya terhadap minoritas Cina Indonesia. Tulisan ini juga mengungkapkan pengaruh faktor etnis Tionghoa terhadap hubungan diplomatik Cina – Indonesia. Dimensi eksternal ini telah memberikan perspektif penting terhadap integrasi nasional orang Tionghoa di sebuah Negara di Asia Tenggara. Tulisan terakhir meneliti kebijakan Cina terhadap orang Tionghoa di Asia Tenggara, dengan jelas memperlihatkan bahwa terdapat kesinambungan dan perubahan selama lebih dari satu abad. Bahkan kebijakan Cina terhadap “Tionghoa perantauan” merupakan faktor penting yang mempengaruhi integrasi nasional etnis Tionghoa di Asia Tenggara.&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin m:val="0"&gt;&lt;m:rmargin m:val="0"&gt;&lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;J&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;udul Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa, Penulis : Leo Suryadinata, Tahun : 1999, Penerbit : Pustaka LP3ES Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-432255049404242933?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/432255049404242933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/11/resensi-buku-etnis-tionghoa-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/432255049404242933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/432255049404242933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/11/resensi-buku-etnis-tionghoa-dan.html' title='Resensi Buku : Etnis Tionghoa Dan Pembangunan Bangsa'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-368229905658514387</id><published>2011-11-16T20:58:00.000-08:00</published><updated>2011-11-16T20:58:56.644-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Budaya Merantau Orang Minang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;da sebuah anekdot, bahwa ketika Neil Amstrong mendarat di Bulan bersama Apallo 11, 38 tahun silam, ia sangat terkejut mendapati orang Minang sudah lebih duluan sampai di sana untuk membuka rumah makan Padang.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bfA5xQl1wfQ/TsSEPmnXiLI/AAAAAAAAAGQ/V6xuVDdTq88/s1600/DSC00477.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-J6t0TdkNDNM/TsSGAIP-Z6I/AAAAAAAAAGg/n6nw64prdqc/s1600/minang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-J6t0TdkNDNM/TsSGAIP-Z6I/AAAAAAAAAGg/n6nw64prdqc/s320/minang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Orang Minang memang ada di mana-mana di berbagai pelosok Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Mereka terkenal karena memiliki budaya merantau. Suatu budaya yang hanya dimiliki oleh suku bangsa tertentu saja di Indonesia. Selain suku bangsa Minangkabau, etnis yang juga mempunyai budaya merantau adalah&amp;nbsp; Bugis, Banjar, Batak, sebagian orang&amp;nbsp; Jawa dan&amp;nbsp; Madura.Budaya merantau orang Minangkabau sudah tumbuh dan berkembang sejak berabad-abad silam. Para pengelana awal bangsa Eropa yang mengunjungi Asia Tenggara mencatat bahwa orang Minangkabau sudah merantau ke Semenanjung Melayu jauh sebelum orang-orang kulit putih datang ke sana. Bahkan, sebuah laporan pertengahan Abad ke-19 yang tersimpan dalam arsip di Perpustakaan Leiden, Negeri Belanda, menyebutkan tentang “The Minangkabau State in Malay Peninsula” (Negara Minangkabau di Semenanjung Malaya). Negeri itulah yang kemudian kita kenal sebagai Negeri Sembilan, salah satu Kerajaan yang mendirikan Negara Federasi Malaysia. Jadi, mereka sudah mendirikan sebuah negara di Semenanjung Malaya sebelum berdiri di barisan terdepan dalam mendirikan Negara Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Tradisi merantau orang Minang terbangun dari budaya yang dinamis, egaliter, mandiri dan berjiwa merdeka. Ditambah kemampuan bersilat lidah (berkomunikasi) sebagai salah satu ciri khas mereka yang membuatnya mudah beradaptasi dengan suku bangsa mana saja. Banyak hasil studi para sarjana asing maupun ilmuwan nasional menunjukkan bahwa budaya merantau orang Minang sudah muncul dan berkembang sejak berabad-abad silam. Budaya yang unik ini sering dikaitkan dengan pantun yang berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Karatau madang di hulu&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Babuah babungo balun&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Marantau Bujang dahulu&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Di kampuang baguno balun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;"Keratau madang di hulu&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Berbuah berbunga belum&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Merantau Bujang dahulu&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Di kampung berguna belum"&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Dalam konsep budaya Alam Minangkabau dikenal wilayah inti (darek) dan rantau (daerah luar). Rantau secara tradisional adalah wilayah ekspansi, daerah perluasan atau daerah taklukan. Namun perkembangannya belakangan, konsep rantau dilihat sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik dikaitkan dengan konteks sosial ekonomi dan bukan dalam konteks politik. Berdasarkan konsep tersebut, merantau adalah untuk pengembangan diri dan mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Dengan demikian, tujuan merantau sering dikaitkan dengan tiga hal: mencari harta (berdagang/menjadi saudagar), mencari ilmu (belajar), atau mencari pangkat (pekerjaan/jabatan) (Navis, 1999)Sebagai sebuah pola migrasi (perpindahan penduduk) secara sukarela, atas kemauan sendiri, maka merantau orang Minang berbeda dengan, katakanlah, merantau orang Jawa yang melalui proses transmigrasi –diprogramkan dan dibiayai pemerintah. Orang Minang merantau dengan kemauan dan kemampuannya sendiri. Mereka melihat proses ini semacam penjelajahan, proses hijrah, untuk membangun kehidupan yang lebih baik (lihat Mochtar Naim, 1984).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Verdana,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Dalam alam pikiran orang Minangkabau –analog dengan dunia agraris– kampung halaman atau tanah kelahiran ibaratnya persemaian yang berfungsi untuk menumbuhkan bibit. Setelah bibit tumbuh, mereka harus keluar dari persemaian ke lahan yang lebih luas agar menjadi pohon yang besar kemudian berbuah. Proses seperti inilah yang dialami dan kemudian terlihat pada tokoh-tokoh asal Minang yang berkiprah di “dunia” yang jauh lebih luas seperti Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Hamka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, atau generasi yang lebih belakangan –lahir, tumbuh, mengalami masa kecil dan remaja di kampung, lalu pergi merantau dan “menjadi orang”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;sumber : http://www.masagala.co.cc/budaya-merantau-orang-minang.html &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-368229905658514387?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/368229905658514387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/11/budaya-merantau-orang-minang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/368229905658514387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/368229905658514387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/11/budaya-merantau-orang-minang.html' title='Budaya Merantau Orang Minang'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-J6t0TdkNDNM/TsSGAIP-Z6I/AAAAAAAAAGg/n6nw64prdqc/s72-c/minang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-5706989009457301000</id><published>2011-10-27T05:04:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T05:04:34.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='harmonisasi antar etnis'/><title type='text'>Realitas Kebersamaan Cina-Jawa</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Hubungan Cina-Jawa terwujud dalam interaksi yang integratif di Kampung Balong, sesungguhnya dapat ditelusuri melalui upaya dari kedua etnis tersebut untuk saling menjaga kerukunan dan kesatuan. Kesatuan itu sendiri mereka gambarkan seperti kue ampyang yaitu penganan yang terbuat dari kacang dan gula Jawa. Kacang adalah representasi dari Etnis Cina, sebab istilah kacang itu sendiri berasal dari bahasa Cina. Sementara itu, gula Jawa adalah representasi dari Etnis Jawa. Seperti halnya kacang dan gula Jawa melebur menjadi satu dalam kue ampyang begitu pula Jawa dan Cina di Kampung Balong melebur ke dalam satu identitas yakni “Wong Balong” baik dalam pembauran budaya, perkawinan campur maupun pergaulan hidup sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Bukan sekedar sebagai slogan, persatuan itu memang merasionalkan dalam kehidupan nyata. Pembauran yang terbentuk memudahkan jalan bagi perkawinan campur dan hal ini terjadi karena pembauran terdapat kesan, seperti yang sering diucapkan oleh para pelaku perkawinan campur yaitu: “&lt;i&gt;Jawa apa Cina pada wae&lt;/i&gt;” (Jawa atau Cina sama saja).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;Menarik untuk dicatat, dan hal ini memberikan perbedaan yang mencolok antara Etnis Cina di Kampung Balong dengan Etnis Cina di bagian lain wilayah Surakarta, adalah mengentalnya penggunaan Bahasa Jawa, terutama Jawa &lt;i&gt;Ngoko&lt;/i&gt; dan Bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari Etnis Cina di Balong. Sekat atau dinding pemisah yang biasanya terbentang luas dalam hubungan Jawa-Cina sebagaimana terjadi di tempat lain, tidak muncul di Kampung Balong. Seperti yang dituturkan pak Toni, salah satu warga Kampung Balong, suasana pergaulan dan interaksi antara orang Jawa dan orang Cina di Kampung Balong tidak memperlihatkan adanya perbedaan baik secara bahasa bahkan secara fisik.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa dan perilaku orang-orang Jawa yang kadang senang menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Cina maupun perilaku yang dimaksud adalah mendengarkan nyanyian atau lagu-lagu berbahasa Mandarin. Kemudian banyak ditemui juga orang-orang yang secara fisik sangat mirip dengan orang Jawa dan sedikitpun tidak menunjukkan cirri-ciri sebagai orang Cina justru sebenarnya adalah orang Cina &lt;i&gt;singkek&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Cina &lt;i&gt;Singkek&lt;/i&gt; bisa diartikan sebagai ciri bagi orang yang unsur Cina-nya masih terlihat seperti dalam penggunaan bahasa. Seperti keterangan pak Adji Candra dalam sebuah surat kabar&amp;nbsp; bahwa &lt;i&gt;Singkek&lt;/i&gt; (Xinkhe) biasanya merupakan label bagi Etnis Cina pendatang baru dan belum fasih berbahasa Indonesia. Xinkhe biasanya &lt;i&gt;pelo&lt;/i&gt;, jika sekarang masih ada usianya sekitar 70-80 tahun.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Singkek&lt;/i&gt; lebih diidentikkan dengan Cina Totok namun pada kenyataannya, seperti keterangan di atas bahwa secara fisik antara orang Jawa dan Cina sudah agak sulit untuk dibedakan atau bahkan dapat dikatakan tidak ada perbedaan sama sekali.&amp;nbsp; Dilihat dari realitas yang ada, jadi sebenarnya tak ada lagi jarak yang sangat mencolok tentang pengertian ras dalam masyarakat Kampung Balong, seperti yang diungkapkan diatas bahwa Cina ataupun Jawa itu sama saja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://daribowo.blogspot.com.jawacina.jpg/" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-vOnliJXaWuQ/TqlFuwvAB2I/AAAAAAAAAE4/tMcdLOEi60Y/s200/jawa+cino.jpg" width="200" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Proses Interaksi Jawa-Cina di Kampung Balong &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;(Sumber : Dwi Ari Wibowo, 7 Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Kesan yang timbul dari pengamatan kehidupan orang-orang Cina di Kampung Balong sedikit berbeda dari apa yang kemukakan Denis Lombart dalam bukunya Nusa Jawa : Silang Budaya jilid kedua dimana menurutnya Orang Cina adalah warga kota yang dingin dalam pekerjaan namun sangat mendambakan kehidupan yang nyaman. Karena sedikit sekali memikirkan hidup prihatin, mereka tidak segan-segan untuk makan enak dan menghibur diri. Mereka menghitung upaya kerja mereka sesuai dengan kesantaian atau pesta yang harus menyertai atau mengimbalinya. Dalam hal itu, mereka lebih mirip orang Barat yang memang dengan cepat dapat menikmati masakan, keramik dan perabotan mereka. Berbeda dengan orang Jawa, Sunda, dan Melayu&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Realitas kehidupan orang-orang Cina di Kampung Balong berbeda dari kehidupan orang-orang Cina di kota lainnya yang lebih kaya atau mapan secara materiil. Mereka yang hidup di Kampung Balong sangat jauh dari kesan memiliki kehidupan yang mapan. Untuk memasak saja orang-orang yang tinggal di Kampung Balong melakukannya di depan rumah (karena keadaan rumah yang sempit) bahkan untuk makan terkadang didapat dari pemberian tetangga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hasil wawancara dengan pak Toni pada tanggal 6 Oktober 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Harian Solopos, pada tanggal 31 Januari 2011.&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lombart, Denys, 2005, Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, halaman 313.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-5706989009457301000?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/5706989009457301000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/10/realitas-kebersamaan-cina-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5706989009457301000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5706989009457301000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/10/realitas-kebersamaan-cina-jawa.html' title='Realitas Kebersamaan Cina-Jawa'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vOnliJXaWuQ/TqlFuwvAB2I/AAAAAAAAAE4/tMcdLOEi60Y/s72-c/jawa+cino.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-5127521277936677474</id><published>2011-10-27T04:16:00.001-07:00</published><updated>2011-10-27T04:16:34.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kampung pecinan'/><title type='text'>Pemukiman Pecinan Balong</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt;v\:* {behavior:url(#default#VML);}o\:* {behavior:url(#default#VML);}w\:* {behavior:url(#default#VML);}.shape {behavior:url(#default#VML);}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1027"/&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Kehadiran orang-orang Cina di Surakarta sudah ada sejak tahun 1745, bersamaan dengan Susuhunan Paku Buwono II yang memindahkan ibukota Kerajaan Mataram dari Kartasura ke Surakarta. Pemerintah Surakarta sengaja mempertajam kehidupan orang Cina secara eksklusif. Dengan demikian sikap tersebut juga ditujukan kepada penduduk pribumi yang bertujuan agar masing-masing pihak hidup dalam suasana tertutup.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk membuat suasana tertutup baik bagi kehidupan masyarakat pribumi maupun Etnis Cina ini, pemerintah Surakarta membuat perkampungan yang dihuni khusus bagi masyarakat Etnis Cina. Di Surakarta daerah-daerah atau kampung bagi etnis Cina terletak di Kampung Pecinan Balong, di mana setiap warga kampung tersebut hanya boleh bergaul dalam lingkungannya sendiri. Orang Cina di kampung ini diharuskan melakukan adat istiadat tradisional asli Cina sehingga mereka akan tetap berbeda identitasnya dari golongan lainnya.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Kampung Balong berada dalam wilayah Kelurahan Sudiroprajan Kecamatan Jebres Kotamadya Surakarta. Kampung Balong berada dekat di sekitar Pasar Gede sebagai pusat perekonomian kota Surakarta. Bentuk rumah etnis Cina di Kampung Balong hampir sama dengan daerah Pecinan umumnya yaitu saling berhadapan dan berpetak-petak, dan di tengah rumah terdapat bagian tanpa atap, digunakan untuk menanam tanaman. Bagian depan rumah merupakan ruang tamu dan tempat meja abu dan kadang digunakan sebagai toko. Mereka yang masih memegang tradisi, tempat menyimpan abu di letakkan di ruang bagian belakang. Setelah ruang tamu ada lorong yang di sebelah kanan dan kirinya terdapat kamar tidur. Di bagian belakang rumah terdapat dapur dan kamar mandi.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kampung Balong yang terletak di sebelah Pasar Gede ini, adalah pemukiman para pekerja kasar yang bekerja di sektor informal. Orang-orang Cina miskin yang menghuni Kampung Balong sangat berbeda taraf hidupnya dengan orang-orang Cina Pecinan yang pada umumnya adalah pedagang. Orang-orang Cina miskin di Kampung Balong itu justru bekerja sebagai buruh, kuli angkut dan tukang becak di sekitar Pecinan. Menurut penuturan pak Beng Kie, salah seorang narasumber yang telah penulis wawancarai, konon kata ‘becak’ berasal dari Bahasa Hokien “beciak” yang berarti ‘tidak enak’. Kata becak mencerminkan suatu pekerjaan yang tidak nyaman, berat, kasar, dan memeras tenaga, atau suatu pekerjaan yang dirasakan tidak enak. Pekerjaan semacam ini ditekuni dan semakin marak dijalankan orang-orang terutama yang bertaraf rendah seiring dengan berkembangnya sektor perdagangan di Pecinan. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Pada perkembangannya, Kampung Balong tidak hanya dihuni oleh orang Cina saja, sebagian besar peduduknya telah banyak yang membaur dengan orang Jawa, dan semakin banyak orang Jawa yang tinggal di Kampung Balong. Orang-orang Jawa itu berasal dari kalangan &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt;, yaitu golongan strata orang Jawa untuk para petani yang tinggal di desa-desa pertanian atau perkebunan di sekitar Surakarta. Mereka berdatangan untuk bekerja di Kota Surakarta. Beberapa dari mereka sebagian pulang pada akhir Minggu, namun sebagian lagi menetap di Kampung Balong. Sejak jaman Kerajaan Mataram Islam sudah ada golongan masyarakat yaitu dari keluarga bangsawan dan priyayi di satu pihak dan golongan &lt;i&gt;wong cilik &lt;/i&gt;di pihak lain.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;/span&gt;Keberadaan dua golongan besar itu ada sampai pada masa kerajaan Yogyakarta dan Surakarta, bahkan hingga pertengahan abad-20. Bangsawan dan priyayi adalah pendudung kebudayaan besar yang bersumber pada istana, sedangkan &lt;i&gt;wong cilik &lt;/i&gt;yang terdiri dari petani, tukang , pedagang dan juga artisan adalah pendukung kebudayaan kecil yang bersumber di pedesaan. Meskipun tampaknya berbeda, kedua sumber wadah budaya ini terjadi interaksi, saling mempengaruhi, dan bahkan saling beradaptasi.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Apa yang disebut &lt;i&gt;wong cilik &lt;/i&gt;dalam masyarakat &lt;i&gt;Vorstenlanden &lt;/i&gt;sebenarnya sangat heterogen. Akan tetapi yang kemudian menjadi tolok ukur sebagai petani adalah tanggungjawabnya sebagai pembayar pajak yang dalam hal ini tergantung dari pemberian tanah garapan milik pemegang &lt;i&gt;apanage. &lt;/i&gt;Menggarap tanah berarti membayar pajak, karena itu mereka disebut &lt;i&gt;sikep &lt;/i&gt;atau kuli sebagai tenaga inti pembayar pajak.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Penjelasan semacam ini dapat dilihat mengenai kehidupan petani sebagai &lt;i&gt;wong cilik &lt;/i&gt;yang didera oleh berbagai tekanan, maka secara struktural kedudukan petani ada di strata bawah yang mau tidak mau dikuasai struktur atas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Ada empat lapisan jenis kuli yang secara hierarkis mempunyai tanggungjawab pembayaran pajak yang berbeda ; lapisan teratas petani diduduki oleh &lt;i&gt;kuli kenceng &lt;/i&gt;yang mengerjakan sawah dan mendiami rumah dan pengarangan. Di bawahnya adalah &lt;i&gt;kuli setengah kenceng &lt;/i&gt;yang hanya mendiami rumah dan pekarangan. Lapisan ketiga diduduki oleh &lt;i&gt;kuli lindung &lt;/i&gt;yang menempati rumah di pekarangan orang lain, dan lapisan terakhir adalah &lt;i&gt;kuli tlosor, &lt;/i&gt;yang tidak punya apa-apa dan hidupnya menumpang pada petani &lt;i&gt;kuli &lt;/i&gt;lain.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3OwuUIxV8Ik/Tqk8Zhn8JCI/AAAAAAAAAEw/ffgTllieeUw/s1600/pasar+gede+sblm+ada+tugu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-3OwuUIxV8Ik/Tqk8Zhn8JCI/AAAAAAAAAEw/ffgTllieeUw/s200/pasar+gede+sblm+ada+tugu.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gambar 1. Kondisi sekitar Pasar Gede tahun 1935 dilihat dari sebelah selatan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(sumber : koleksi arsip foto kelurahan Sudiroprajan) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Arus masuknya tenaga buruh ke Surakarta bertambah deras ketika Pakubuwono X pada tahun 1927 memperluas dan membangun kembali Pasar Gede dalam rangka membangkitkan nuansa perdagangan di Surakarta. Akibatnya, meningkatlah jumlah orang-orang Cina dan orang-orang Jawa yang bekerja di sector informal dengan menekuni pekerjaan yang hampir sama yaitu sebagai buruh, kuli angkut, tukang dorong gerobak, ataupun tukang becak. Karena didorong oleh perasaan senasib maka mereka memilih tinggal di Kampung Balong. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Dampak dari kebijaksanaan Pakubuwono X itu terlihat pada berubahnya Surakarta menjadi wilayah perkotaan dan perdagangan. Tepat seperti yang diharapkan Pakubuwono X, terjadi pertumbuhan ekonomi yang pesat di Surakarta melalui pembangunan pasar-pasar. Salah satunya adalah Pasar Gede yang letaknya berdekatan dengan Kampung Balong. Adanya pembauran atau asimilasi secara alamiah membuat hubungan Cina-Jawa di Kampung Balong sampai sekarang masih terjaga dengan harmonis. Meskipun banyak terjadi isu-isu atau konflik-konflik rasial, itu semua tidak mempengaruhi integrasi sosial Jawa-Cina yang ada di Kampung Balong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Lihat Soedarmono, dkk, 1999. &lt;i&gt;Runtuhnya Kekuasaan Keraton Alit : Studi Radikalisasi Sosial ‘Wong Sala’ dan Kerusuhan Mei 1998 di Surakarta&lt;/i&gt;. Surakarta : LPTP, halaman 192.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;halaman 193&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hasil wawancara dengan pak Oei Beng Kie pada tanggal 3 Oktober 2011&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Suhartono, 1995, &lt;i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Bandit Bandit Pedesaan : Studi Historis 1850-1942 Di Jawa, &lt;/i&gt;Yogyakarta : Aditya Media. Halaman 40-41.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;halaman 43.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-5127521277936677474?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://daribowo.blogspot.com' title='Pemukiman Pecinan Balong'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/5127521277936677474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/10/pemukiman-pecinan-balong.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5127521277936677474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5127521277936677474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/10/pemukiman-pecinan-balong.html' title='Pemukiman Pecinan Balong'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3OwuUIxV8Ik/Tqk8Zhn8JCI/AAAAAAAAAEw/ffgTllieeUw/s72-c/pasar+gede+sblm+ada+tugu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-4101885751143436288</id><published>2011-10-27T03:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T03:57:48.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='harmanisasi antar etnis'/><title type='text'>Filosofi Harmonisasi Jawa dan Cina</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/a&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Meleburnya Etnis Jawa dan Cina di Kampung Balong tidak terlepas dari upaya keras kedua etnis tersebut untuk menjunjung tinggi harmoni dan merawat nilai-nilai kerukunan serta menghindari konflik sedapat mungkin. Namun tidak boleh dikesampingkan bahwa kerukunan dan integrasi sosial Jawa-Cina di Balong juga di fasilitasi oleh adanya akar-akar budaya dasar yang tersusun menjadi falsafah atau pandangan hidup kedua etnis tersebut. Dengan demikian, terjadi pendekatan kultural di antara kedua etnis tersebut dan hal ini sangat menunjang terjadinya konflik Jawa-Cina di Surakarta lebih karena dominannya pedekatan politik dan rendahnya pendekatan kultural.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;Berikut diuraikan konsep-konsep dasar tentang keselarasan yang mengakar pada budaya kedua etnis tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Dalam menjaga harmonitas sosial atau keselarasan itu, Etnis Jawa di Kampung Balong seperti pada umumnya Etnis Jawa yang lain, secara turun-temurun mempertahankan tatanan yang disebut &lt;i&gt;unggah-ungguh &lt;/i&gt;atau tatakrama yang menjadikan masyarakat Jawa itu berperasaan.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Semula, tata karma itu berada dalam ranah berbahasa dengan aturan agar yang muda menghormati yang lebih tua. Bentuk hormat itu diwujudkan dalam bentuk bahasa &lt;i&gt;krama &lt;/i&gt;(bahasa yang dianggap halus dan sopan) dan yang harus dipakai oleh mereka yang lebih muda kepada yang tua. Kemudian tata karma Jawa itu dipakai pedoman sebagai etika paerilaku seperti menjaga hubungan baik dengan orang lain, membantu orang lain sebanyak mungkin, berbagi rejeki dengan tetangga, berusaha mengerti perasaan orang lain dan kemampuan untuk dapat menghayati perasaan orang lain (&lt;i&gt;tepa salira&lt;/i&gt;).&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Dalam masyarakat terlihat orang Jawa itu sangat memperhatikan kesopanan, penghormatan terhadap orang yang dianggap lebih tua disertai sikap yang berhati-hati. Salah satu bentuk sopan santun atau basa-basi pergaulan yang dinilai positif adalah kemampuan orang Jawa untuk bersikap &lt;i&gt;ethok-ethok &lt;/i&gt;(pura-pura). &lt;i&gt;Ethok-ethok &lt;/i&gt;yang diperlihatkan dalam lingkungan keluarga itu merupakan cara orang Jawa untuk tidak memperlihatkan perasaan-perasaan sebenarnya didalam pergaulan demi menjaga ketertiban agar tetap berlangsung.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Dengan demikian tatakrama itu yang pada dasarnya mengatur perilaku bercampur dan berinteraksi dengan orang lain disertai sikap mengalah bila terjadi pertengkaran. Dalam konteks inilah kita memahami ketika orang Jawa berkata dalam sebuah pepatah “&lt;i&gt;rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.” &lt;/i&gt;Pepatah itu terkait dengan prinsip harmoni orang Jawa adalah bahwa hubungan dengan orang lain patut dijunjung tinggi orang Jawa biasa hidup secara rukun. Tujuan dan prinsip kerukunan ialah untuk mempertahankan keadaan masyarakat yang harmonis. Atas nama prinsip kerukunan, orang Jawa berusaha untuk menghilangkan tanda-tanda ketegangan masyarakat atau antar pribadi, sehingga hubungan sosial tetap tampak harmonis dan baik, meskipun ini relative sifatnya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Karena sifat dasar orang Jawa yang demikian itu, orang Jawa mampu membuat suasana interaksi antar warga lebih nyaman dan harmonis. Seperti yang terdapat di Kampung Balong sifat-sifat yang dijaga orang Jawa menjadikannya mudah diterima dan mudah dalam melakukan relasi antar warga.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada pihak lain upaya menjaga kerukunan dan keselarasan juga diperlihatkan etnis Cina di Kampung Balong. Sebagai bagian dari Etnis Cina yang tersebar di mana saja di penjuru dunia ini, maka Etnis Cina di Kampung Balong juga memiliki kecenderungan menjaga tradisi maupun konsep yang mereka warisi turun-temurun, yang telah diupayakan dan diputuskan secara kolektif sejak jaman leluhur mereka, yakni harmonitas dan keselarasan. Konsep rukun bagi Etnis Cina menunjukkan pada pengertian anti kekerasan dan hidup saling tolong menolong. Anti kekerasan pada orang Cina konsep keselaran bagi Etnis Cina, pertama nampak pada konsep Konfusius tentang &lt;i&gt;Te, &lt;/i&gt;yaitu menolak pemerintahan dengan kekerasan fisik. Konfusius tidak setuju dengan kaum realis, bahwa satu-satunya pemerintahan yang efektif adalah pemerintahan yang menggunakan kekerasan fisik.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal itu tercerimin dari masyarakat Kampung Balong, meskipun tidak semua agama mereka adalah Kong Hu Cu namun ajaran ini telah mereka anggap sebagai tradisi Etnis Cina yang telah mendarah daging dan banyak mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan interaksi baik sesama Etnis Cina maupun Etnis Jawa yang ada di Kampung Balong. Orang-orang Cina di Kampung Balong juga percaya bahwa jika kita melakukan kebaikan maka balasannya juga kebaikan. Ajaran Konfusius mendasarkan diri pada sikap saling percaya dan menunjukkan nilai-nilai yang menjauhkan diri dari konflik. Ditambah ajarannya tentang &lt;i&gt;Jen &lt;/i&gt;(kebaikan), dan &lt;i&gt;Chun-tzu &lt;/i&gt;(suka melayani/menolong orang lain, berjiwa besar), Konfusius benar-benar mengajarkan nilai-nilai kerukunan pada orang Tionghoa.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Konsep keselarasan yang kedua bagi Etnis Cina terdapat pada ajaran Taoisme. Menurut ajaran Taoisme, alam ini merupakan ciptaan yang sangat sempurna. Oleh karena itu, hukum alam dan terjadinya alam dapat dijelaskan dalam ajaran Taoisme. Demikian juga cara hidupnya manusia dapat dipelajari dari ajaran Taoisme tersebut. Dalam ajaran Taoisme menuntut kepada manusia untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam secara sempurna.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Jadi apabila kita dapat melihat dalam konsep ajaran Taoisme bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dengan alam, maka dari itu manusia wajib menyelaraskan kehidupannya sesuai dengan hukum alam. Selain itu, keselarasan juga akan&amp;nbsp; terwujud selama manusia menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Konsep yang ketiga dalam membangun keselarasan bagi Etnis Cina terdapat dalam ajaran Budha. Agama Budha atau Budhisme merupakan ajaean atau kepercayaan yang diciptakan oleh seorang anak manusia yang meliputi petunjuk-petunjuk kehidupan di dunia ini. Agama Budha bagi orang Cina merupakan suatu agama yang dibwakan oleh orang luar negara Cina. Ajaran Budah yang dibawakan dari India disesuaikan dengan budaya dan peradaban Cina sehingga agama Budha sampai saat ini masih dan berkembang di negara Cina maupun oleh Cina Perantauan.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pengaruh Budhisme dalam kehidupan etnis Cina nampak&amp;nbsp; jelas pada praktik sistem meditasi, hidup disiplin, dan membina persahabatan sesama manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Dalam membicarakan tentang filsafat Cina, ada tiga temuan yang terdapat dalam filsafat Cina, yakni :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 200%; margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;a)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Harmoni : antara manusia dan sesama, antara manusia dengan alam, antara manusia dan surga. Kecenderungan menghindari konflik dan lebih memilih mencari jalan tengah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 200%; margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;b)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Toleransi : nampak pada keterbukaan terhadap pendapat yang berbeda. Ini memungkinkan hidupnya pluralis dan mampu membaur dengan cepat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 200%; margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;c)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Kemanusiaan : manusia mengejar kebahagiaan di dunia dengan mengembangkan diri dalam interaksi dengan alam dan sesama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; Ma’aruf Jamuin 2001, &lt;i&gt;Memupus Silang Sengketa Relasi Jawa Tionghoa, &lt;/i&gt;Solo : Ciscore dan TAF, halaman 3.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Roqib Moh, 2007, &lt;i&gt;Harmoni Dalam Budaya Jawa, &lt;/i&gt;Purwokerto : STAIN Purwokerto Press, halaman 57.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Ibid &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Maria A. Sarjono, 1992, &lt;i&gt;Paham Jawa : Menguak Falsafah Hidup Orang Jawa Lewat Karya Fiksi Mutakhir Indonesia, &lt;/i&gt;Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, halaman 22.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Hariyono, 1993,&amp;nbsp; &lt;i&gt;Kultur Cina dan Jawa : Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural, &lt;/i&gt;Jakarta: Sinar Harapan, halaman 44. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;halaman 47.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;halaman 48.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Rani Usman,2009, &lt;i&gt;Etnis Cina Perantauan di Aceh, &lt;/i&gt;Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, halaman 77.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5399127475650883402#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, halaman 87&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-4101885751143436288?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://daribowo.blogspot.com' title='Filosofi Harmonisasi Jawa dan Cina'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/4101885751143436288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/10/filosofi-harmonisasi-jawa-dan-cina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4101885751143436288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4101885751143436288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2011/10/filosofi-harmonisasi-jawa-dan-cina.html' title='Filosofi Harmonisasi Jawa dan Cina'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-4717142652355737677</id><published>2010-09-15T05:54:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T05:54:42.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang wanita'/><title type='text'>wanita memang sulit dimengerti.</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Saya masih mencintaimu. Namun, kita tak bisa bersama."&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Okky saat ditanya bagaimana perasaannya saat ini terhadap Pasha Ungu. Di rubrik konsultasi psikologi pun (saya suka membacanya di KOMPAS Minggu), saya sering menemukan kata-kata itu. Sejauh ini, sebagian besar adalah wanita. Begitu pun teman-teman wanita saya saat saya tanya bagaimana perasaan mereka terhadap mantan pacar mereka tak lama setelah mereka putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mm...lagi-lagi saya menemukan rahasia hati seorang wanita. Bagi saya (saya tidak ingin menjeneralisir perasaan pribadi saya sebagai perasaan laki-laki pada umumnya), mencintai ya...harus bersama. Bagaimana mungkin saya bisa melepaskan atau merelakan seseorang yang saya cintai begitu saja. Mencintai seseorang yang sangat istimewa bagi kita maka kita harus mencintai dirinya secara keseluruhan. Fisiknya, personality-nya, attitude-nya, dan hatinya. Rasa cinta itulah yang justru membuat kita bersatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya bingung dengan mereka-mereka yang mengatakan seperti itu. Kalau memang cinta ya...pertahankan hubungan yang ada. Bukankah saat kita menyukai kelebihannya, kita juga harus siap mengikhlaskan kekurangannya. Cinta juga tidak perlu alasan &amp;amp; pertanyaan "kenapa". Cinta ya cinta. Titik. Untuk apa kita mencintai seseorang namun selalu ada kata penolakan di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...saya bukanlah Deddy Corbusyet, seorang mentalist yang mampu menebak perasaan seseorang. Biarkan wanita menyimpan jawabannya agar laki-laki senantiasa mencari jawaban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah lagu yang cukup manis yang menginginkan kejujuran cinta. Saya sering mendendangkannya. Tentu saja dgn suara saya yang fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau benar-benar sayang padaku&lt;br /&gt;Kalau kau benar-benar cinta&lt;br /&gt;Janganlah kau katakan semua itu, cukup tingkah laku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang apalah artinya jika hanya di bibir saja&lt;br /&gt;Cinta itu bukan lah main-mainan, tapi pengorbanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang&lt;br /&gt;Apalah artinya cinta tanpa pengorbanan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;kenapa kita tak bisa jalani bersama? kau tak pernah menjawabnya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-4717142652355737677?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/4717142652355737677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/09/wanita-memang-sulit-dimengerti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4717142652355737677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4717142652355737677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/09/wanita-memang-sulit-dimengerti.html' title='wanita memang sulit dimengerti.'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-3663708494015552177</id><published>2010-03-15T08:19:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T08:25:14.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><title type='text'>JOB TRAINING = HOLIDAY.....part 1</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ehmm…baru kali ini ak sempet nulis pengalamanku waktu magang di Arsip Nasional Jakarta bulan lalu (he.sok sibuk bgt y)..sebenernya ne juga atas saran temenku buat nulis pengalaman ini, mga aja menarik..he. banyak pengalaman yg ak sudah dapatkan dsana (yah lumayan sih g banyak jg pdhal). Ak magang dari tanggal 18 Januari hingga 17 Februari 2010 di Arsip Nasional &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Baru hari pertama tiba disana ak udah tersesat (maklum dari kampong chink), gara-garanya cuma kelupaan nama tempat, slma dsana ak tinggalnya sama pakdhe di jalan Anggur-Cipete, nah kembali ke yng tadi..ak dari lebak bulus naik angkot no.11 warna merah terus nanti turun di Anggur, eh ak lupa coz smsnya udah agak lama n kehapus lg jd yng ak inget jalan “anggrek” terus ak blg ke pak supir angkotnya begitu..”ke anggrek y mas..” langsung deh sang supir bingung “anggrek daerah mana mas?? Ak jwb Cipete..&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; yah mngkin sma Cipete cuma &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; dia ngerasa g lewat situ terus ak diturunin diDe’Best (nama mall kecil gitu deh) suruh naik metro mini.. krna tkut salah ak telp sdara dlu eh g diangkat2 nunggu beberapa lama akhirnya ditelpon (untung batreinya blm abis) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;ma sodaraku, dijemput deh distu..yang pdahal dari rumah tuh deket yah kira2 cuma 2 kilometer lah..ehm..kebodohan yang pertama tuh..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Magang dilembaga negeri adalah pengalaman pertamaku, hari pertama kerja udah ngerasa nyaman ma suasananya dari yang tempatnya enak dengan fasilitas yang memadai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;hingga para pegawainya yang ramah dan bersahaja, dan juga banyak ketemu alumni UNS dsana jadi bener2 dibimbing kayak ma adiknya sendiri..enak to..mantep to..he.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;cuma pgn ngsih tau aja..di ANRI ini byk lho tersimpan arsip2 saksi sejarah perjalanan bangsa dan juga naskah2 pada masa VOC yg berisi informasi mengenai kekayaan alam Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketika seseorang mendengar kata arsip maka yang terbersit dalam pikirannya adalah tumpukan kertas tua yang begitu apek dan usang. Dan pemikiran itu hampir mendekati kebenaran. Namun, ketika bertemu dan mendalami institusi Arsip &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Nasional&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state w:st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak begitu adanya kalau kita mengelola dengan baik dan memahaminya secara mendalam kita akan menyadAri bahwa arsip adalah harta karun yang tak ternilai harganya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dalam&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pekerjaanku selama magang di minggu pertama adalah mentranskripsi data audio wawancara dikomputer, jadi tiap hari diminggu pertama barhadapan ma computer dan suara2 yang dihasilkannya didalam suhu 18 derajat celcius. Wlopun tugas utamaku mentrnskrip diruang pengolahan tapi aku dan temen satu kelompokku dibagian sejarah lisan ini,diberi kebebasan juga untuk menghilangkan rasa bosan jika klamaan bekerja untuk jalan2 disekitar kantor (untuk mengamati dll) dan juga bisa keruang baca atau perpus ANRI, begitulah tugasku selama minggu pertama yang cukup menyenangkan. &lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hampir seminggu berlalu, minggu pertama libur untuk sekedar refresing ak bersama teman2 magang (ada 5 orang yg magang dsana dr UNS ; Gilang, Mira, Hasri dan Trisna) merencakan untuk main ke Kota Tua dan kita ksana hari sabtu kmpul pagi dikantor ANRI. Berlima dari situ kita naik Kopaja (klo gak salah no.63) turun di Blok M distu ketemu pacarnya Gilang (inisialnya h.i.k.m.a.h), nambah satu peserta deh.. terus kita naik Transjakarta langsung turun di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; (tua). Karena pusat ramainya didepan museum Fatahillah, kami semua jalan dulu kesana sambil foto-foto (y mklum pda narsis2 orangnya kcuali ak..wkwkwk). baru nyampe Fatahillah udah mw disuguhin atraksi reog ponorogo eh malah turun ujan deres banget…terus akhirnya sambil berteduh kita masuk aja ke museum. Setelah reda pertunjukkan dilanjutkan dan dan nonton bentar terus kita memutuskan untuk nyari makan..(nyari lho..ada yang buang gak ya?)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena kurang seru cuma disitu doank akhirnya kita milih buat nyewa sepeda untuk jalan2 ketempat yg lain..mahal bener yak satu sepeda harga sewanya 25ribu dan kita mesti bayar 100rbu dengan 3spda,1 guide + paket wisata (ceritanya gitu). Karena pengalaman itu mahal harganya ydah gpa2 deh uang segitu kita gelontorkan..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sepeda2an ditemani guide asal wonosobo (eh trnyata satu ras juga, ngomonge Jowo wae gak usah diIndo2in..he) kita sepeda2an ke Sunda Kelapa ( pelabuhan yang udah berdiri pada masa VOC ), Museum Bahari, Gondang Batavia (dulunya tmpat bengkel kapal VOC skr udah jadi kafe gitu), Jembatan Intan (yang bisa dibuka-tutup), Hotel Batavia (untuk ukuran pada masanya hotel ini udah bagus banget..) terus caliber 11 (tmpt pmbantaian org2 cina oleh Belanda, crtanya sih gitu..). Karena sepedanya gilang udah g bisa diajak kompromi (remnya macet) yang mmbuat jalannya susah, bersuara lg..(ngik…ngik..) n berhubung kita jg udh kelelahan akhirnya perjalanan disudahi aja.. kita balik ke museum Fatahillah untuk beristirahat sejenak. Ketika mau pulang kebetulan ketemu ma kang Asep Kambali ( ketua komunitas historia), dsitu kita ngbrol2 sambil membuka kenangan kembali waktu ak ke Maluku Utara (bersama dia dan mahasiswa &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; lain) sampe ngomongin kritik terhadap kondisi sekitar &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tua. ya! kondisinya sekarang ialah orang lebih menikmati tempat atau lokasi ini untuk area bermaian, nongkrong, bermadu kasih..dan hanya sedikit yang mau memahami bahwa inilah simbol pemersatu bangsa lewat peninggalannya..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebenarnya agenda buat hari ini tu mau ke Monas juga tapi berhubung waktu sudah sore akhirnya kita langsung pulang aja ketempat semula kita kumpul.terus pulang kerumah/kost masing2 dan beristirahat...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Libur hari kedua (hari minggu), ak ma Gilang saja (tanpa ngajak tmn cwe2 yg laen) berncana main lg niat awalnya cuma pengen nyari durian (waktu itu &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; mash bnyak yg jual). dapet durian di Margonda yang harganya 10ribuan, lumayan dapet 6 biji 50ribuan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;berhubung pengen makan ditempat yang bagus akhirnya kita putusin buat pergi ke Puncak untuk makan disana..(cuma mau makan durian mpe pergi ke Puncak..seru &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;?) maklumlah suasana di puncak &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; sejuk pemandangannya bagus lagi..sepertinya enak makan durian sambil menikmati pemandangan…hehe.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ternyata perjalanan kesana g mudah..dengan menunggangi mr.blink (motor spinku) membawa 6 biji durian, dan membawa Gilang yang agak gendut itu (hee..sorry mbah) perjalanan ke puncak melewati berbagai rintangan (alah..lebay..) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena berangkat dari tempatnya Gilang (Depok) ak tancap gas ke Cibinong..dikiranya ngikutin jalan lewat Citereup bisa ke langsung ke Bogor ternyata itu malah berlawanan arah dan akhirnya kita harus putar balik dengan melewati tumpukan angkot yang bikin macet (angkot ma penumpang banyakan angkotnya sumpah..) dengan waktu kurang lebih 1 ½&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; jam dari arah semula. Untungnya kita spekulasi aja lewat jalan alternative… dikiranya salah jalan lagi coz jalannya lewat kampung2 gitu jadi g ada penunjuk arah. Akhirnya ketemu jalan protocol kita nanya warga dan nunjukkin klo arah Bogor-puncak itu jalan lurus aja kedepan lewat jalan protocol itu. Setelah jalan cukup lama sekitar 2 jam kita nyampe &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan mampir beli bahan bakar dulu.. waktu mau lanjut eh hujan deres banget hingga kita mesti nunggu sekitar 2 jam sampe ujan reda. Sebelum mau lanjut, krna gak nahan lagi buat mkn durian akhirnya makan aja dulu satu buah yang aromanya bkin org sekitar ngeliat mpe ngiler2 gitu..haha.. perjalanan berlanjut dengan melewati tanjakan yang berliku hingga nyampe ketempat yang drasa cukup strategis dibawah patung kecap raksasa.. sambil foto-foto, lht pmndangan, makan durian pula…ehmmm mak nyon!! Smua habis disikat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;tahukah kawan...bahwa tiap hari minggu sore jalan ke puncak dari arah jakarta/bogor ditutup krna arus kndaraan dari puncak akn membludak..(hari minggu adl hari berlibur dan puncak adlh tmpt wisata yg plg sering dkunjungi apalgi oleh warga jakarta untuk menghilangkan kepenatan). Pulang kesorean..kelaparan..kita mampir difast food (warteg) pesen kwetiau…gk bikin kenyang nambah lagi nasi goreng..sambil nunggu mkanan dtg, mendengar percakan yang jual eh..logat’e tegal2 gitu…hmmm..ktemu wong jowo maning kie.. gak diKota Tua gak diBogor perasaan isine wong jowo kabeh..wkwkwk..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Walaupun hati riang tapi tak diikuti dengan fisik yang tidak kuat akhirnya kita mutusin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; untuk cpt pulang karena hari juga udah mulai gelap. Pulang ketmpat simbah dulu (gilang) eh ada yang jual durian, kita beli lagi...tapi ini gak dimsti dmkan diPuncak, makn disitu aja sudah..abis 4 biji…(dasar rakus,,he) dbwa kermh dua buat oleh2..he. dari depok ak pulang sendiri bermodalkan petunjuk dari simbah dan petunjuk arah dijalan akhirnya bisa nyampe rumah dengan selamat wlopun dijalan sempet kesasar karena kebablasan jalan.hehe..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;pesanku kawan..kalau kmu tersesat dalam sbuah perjalanan..yg prtama kmu lakukan adalah tenang..lalu berfikir..terus observasi atau lht kndisi sekitar..kmudian merencana..( abis itu terserah apa yang mau km lakukan sesuai apa yang km rncanakan), ini jika terjadi diluar keinginan kita lho yang ternyata menimpa kita..hehe &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Y6bkz2p8bKE/S55IsP-9VpI/AAAAAAAAAB4/hLuD53AMwJA/s1600-h/IMG_1231.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_Y6bkz2p8bKE/S55IsP-9VpI/AAAAAAAAAB4/hLuD53AMwJA/s320/IMG_1231.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;TO BE CONTINUE…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-3663708494015552177?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/3663708494015552177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/03/job-training-holidaypart-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/3663708494015552177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/3663708494015552177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/03/job-training-holidaypart-1.html' title='JOB TRAINING = HOLIDAY.....part 1'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Y6bkz2p8bKE/S55IsP-9VpI/AAAAAAAAAB4/hLuD53AMwJA/s72-c/IMG_1231.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-7505074054879235264</id><published>2010-03-05T16:27:00.000-08:00</published><updated>2010-03-05T16:27:34.890-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspiratif'/><title type='text'>Memiliki isteri cantik dan baik</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Makna cantik dan baik memang relatif .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena faktor jodoh seseorang bisa memiliki isteri yang cantik dan baik (atau suami yang tampan dan baik).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Secara naluriah semua manusia ingin memiliki isteri yang cantik dan baik, tapi sekalipun telah mendapatkan-nya, tidak semua orang bisa menikmati nilai, manfaat, dan berkah dari seorang isteri yang baik dan cantik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya mengkategorikan 3 golongan orang dalam memperlakukan isteri yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1- Golongan Terlalu Berlebihan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang ini terlalu berlebihan (over acting) dalam menyatakan kecantikan dan kebaikan isterinya. Dijadikan perbincangan di kantor, dijalanan, dan dimanapun dengan cerita-cerita seputar pernyataan isterinya yang memiliki wajah cantik dan hati yang baik. Dia selalu promosi sang isteri didandani mentereng dan dipamerkan keliling kampung. Dan akibatnya banyak orang yang gerah dan muak dengan orang ini dan mengatakan "Ah..isterimu jelek, tak secantik dan sebaik sesumbarmu" . Dan orang ini pun marah-marah ketika banyak orang mengatakan isterinya jelek, dan terus berusaha meyakinkan orang bahwa isterinya betul-betul cantik dan baik , dia tidak mengerti bahwa sesungguhnya orang hanya kesal kepada dirinya yang over acting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Alhasil, Pria diatas meskipun memiliki isteri yang benar-benar cantik dan baik, tapi tidak bisa menikmatinya, hidupnya tidak pernah bisa bahagia oleh anugerah didepan matanya, kebaikan dan kecantikan isterinya tak memberi manfaat dan rahmat, malah sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Isteri yang cantik dan baik, ibarat Agama dan Budaya . Orang tidak tepat dan over acting dalam memperlakukan serta memaknai Agama dan Budaya , bahkan sampai ada yang melakukan pembunuhan masal dengan mengatasnamakan Agama dan Budaya, tapi ketika orang-orang mengatakan Agama dan Budayamu jelek, dia marah dan semakin jadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2 -Golongan Terlalu Pasif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang ini terlalu cuek dan masa bodoh terhadap isterinya yang cantik dan baik, kurang di urus, dia tau kalau isterinya cantik dan baik, tapi dia tidak merasa puas dan kurang mensyukuri, bahkan sering selingkuh dan main PSK untuk memenuhi hasrat birahi-nya. Dan sebagai akibat sikapnya yang kurang memperdulikan isteri tersebut, beberapa pria mata keranjang memanfaatkan keadaan dengan merayu isteri si pria cuek itu . Tapi ketika pria itu mengetahui isterinya digoda dan dirayu orang dia marah dan mengamuk , dia tidak mengerti jika hal itu terjadi karena sikap acuhnya terhadap isteri cantik dan baik itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Alhasil, Pria diatas meskipun memiliki isteri yang benar-benar cantik dan baik, tapi tidak bisa menikmatinya, hidupnya tidak pernah bisa bahagia oleh anugerah didepan matanya, kebaikan dan kecantikan isterinya tak memberi manfaat dan rahmat, malah sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Isteri yang cantik dan baik, ibarat Agama dan Budaya . Orang kelewat tidak peduli dan acuh dalam memperlakukan serta memaknai Agama dan Budaya , Bahkan Agama cuma di KTP , prilakuknya sama-sekali tidak mencerminkan, dan ketika ada orang yang ingin membawa Agama itu pada dunia yang lebih memberikan kemaslahatan umat dia marah dan kebingungan harus bagaimana, mau bicara tak punya Ilmu, mau berbuat tak punya skill , dan akhirnya cuma bisa mengamuk , dan mengatakan "Biar gua kagak sholat dan tukang main Jablay, kalau lu main-main dengan Agama KTP gua..., gua bantai lo.."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahkan budaya bangsa cuma menjadi barang yang tergeletak di gudang , dan ketika ada bangsa lain yang mengakuisisi dia marah-marah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3- Golongan Bertanggungjawab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang ini selalu bersyukur atas anugerah isteri cantik dan baik yang diterimanya, dan akibat rasa syukur di hatinya yang terdalam maka terperciklah keluar segala efek positif dalam setiap pemikiran dan tindakannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Inspirasi hidup , by Free7&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-7505074054879235264?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/7505074054879235264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/03/memiliki-isteri-cantik-dan-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/7505074054879235264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/7505074054879235264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/03/memiliki-isteri-cantik-dan-baik.html' title='Memiliki isteri cantik dan baik'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-4690344249424130828</id><published>2010-02-27T23:55:00.001-08:00</published><updated>2010-02-27T23:55:26.895-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Do'a Tak diijabah</title><content type='html'>Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :&lt;br /&gt;1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu.&lt;br /&gt;2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?&lt;br /&gt;3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan. &lt;br /&gt;4. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya. &lt;br /&gt;5. Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu? &lt;br /&gt;6. Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.&lt;br /&gt;8. Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia. &lt;br /&gt;Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki dating kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," jawab orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu ayat yang kedua apa?" Tanya Imam Ja'far lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayat yang kedua berbunyi "Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin" (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu mengapa?" Tanya imam Ja'far.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja'far kemudian menjelaskan, "Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo'a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do'amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo'a kepada Allah, maka berdo'alah kepada-Nya dengan Jihad Do'a. Tentu Alah akan menjawab do'amu walaupun engkau orang yang berdosa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang dimaksud Jihad Do'a?" sela orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bacalah, "Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau rdhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do'amu," papar Imam Ja'far.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-4690344249424130828?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/4690344249424130828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/02/mengapa-doa-tak-diijabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4690344249424130828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4690344249424130828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/02/mengapa-doa-tak-diijabah.html' title='Mengapa Do&apos;a Tak diijabah'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-4846255171032476007</id><published>2010-02-23T07:48:00.001-08:00</published><updated>2010-02-23T07:48:15.300-08:00</updated><title type='text'>Rahasia Dahsyat Kekuatan Air</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:"Comic Sans MS";	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:script;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}h3	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Heading 3 Char";	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0in;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0in;	mso-pagination:widow-orphan;	mso-outline-level:3;	font-size:13.5pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	font-weight:bold;}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0in;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0in;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.Heading3Char	{mso-style-name:"Heading 3 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Heading 3";	mso-ansi-font-size:13.5pt;	mso-bidi-font-size:13.5pt;	font-weight:bold;}span.judulnewsdetail	{mso-style-name:judulnewsdetail;	mso-style-unhide:no;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.1pt 935.55pt;	margin:35.95pt 89.85pt 35.95pt 89.85pt;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Selama berabad-abad lamanya manusia selalu tergantung pada air. Air bisa sangat bermanfaat bagi manusia untuk menjaga kesehatan dan pengobatan namun air bisa juga mengakibatkan bencana yang tak terperikan. Banjir dahsyat di berbagai daerah atau peristiwa tsunami di Aceh, jelas sekali menggambarkan kekuatan alam yang mampu meluluhlantakan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan penduduknya hanya dengan sekali libas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena dahsyatnya kekuatan air, manusia pun selayaknya memiliki ahlak terhadap air. Banyaknya pencemaran air di Indonesia yang meliputi sungai, laut, dan air tanah&amp;nbsp; jelas sekali memperlihatkan betapa rendahnya ahlak manusia &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terhadap air. Tidaklah mengherankan jika air pulalah yang mengakibatkan banyak bencana di &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Bencana-bencana tersebut tentulah bukan takdir Tuhan semata, melainkan takdir tersebut terjadi akibat perbuatan manusia itu sendiri :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;“Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali&amp;nbsp; tidak menganiaya hamba-Nya. (Q.S Al Anfaal (8) : 35)”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (Q.S Yunus (10) : 44)”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian ada sebuah pertanyaan : benarkah air mampu merespon positif atau bahkan 'balas dendam' kepada manusia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan diatas terjawab juga akhirnya di abad modern ini. Melalui penelitian tentang air yang dilakukan ilmuwan Jepang Dr.Masaru Emoto akhirnya dapat kita ketahui bahwa air pun ternyata HIDUP dan dapat memberikan respon yang positif ataupun negatif terhadap manusia. Penelitian ini patut diacungi jempol karena telah membuktikan ayat dalam Al Quran : "Dan kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup..." (Q.S Al Anbiya (21) :30).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dr.Masaru Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop). Foto kristal air ini didapat dengan cara membekukan air pada suhu -25 derajat celcius dan difoto dengan alat foto berkecepatan tinggi. Hasilnya adalah air ternyata mampu merespon terhadap kata-kata, gambar serta musik baik secara positif ataupun negatif. Jika kita mengatakan pada air kata-kata "cinta dan terima kasih" maka hasil foto kristal airnya sungguh dahsyat yakni membentuk kristal air heksagonal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengatakan pada air kalimat "kamu bodoh" maka tidak akan membentuk kristal bahkan gambarnya jelek sekali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Itulah sebabnya sekarang ini kita harus berahlak terhadap air karena dengan ahlak yang baik pada air berarti kita mengkonsumsi air yang akan berdampak baik pada tubuh kita, sebab air yang mampu membentuk heksagonal merupakan air yang mampu melunturkan racun-racun pada tubuh kita. Percobaan terhadap air tidak hanya dilakukan dengan kata-kata namun juga melalui musik. Ternyata musik klasik mampu merubah air membentuk kristal yang sangat indah sedangkan musik heavy metal justru membentuk air yang tidak baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang berkaitan dengan manfaat air sebagai penyembuhan spiritual juga mengagumkan. Foto berikut ini telah memperlihatkan kebesaran Allah, dimana air yang telah diberikan doa ternyata mampu membentuk kristal heksagonal yang sangat indah.&lt;br /&gt;Dengan penelitian ini, jelaslah sudah bahwa pengobatan alternatif melalui air yang telah diberi doa ternyata bisa memberikan kesembuhan kepada penyakit yang berat sekalipun. Jika dulu banyak orang beranggapan penyembuhan penyakit melalui air yang diberi doa adalah musrik maka oleh ilmu pengetahuan telah dibuktikan bahwa doa yang dibacakan pada air mampu merubah air tersebut menjadi air penyembuh. Jadi semua ini sejalan dengan ilmu pengetahuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian Dr.Masimoto inipun tidak hanya mencakup air melainkan juga makanan lainnya yang ternyata mampu memberikan reaksi positif dan negatif. Inilah rahasianya mengapa kita dianjurkan oleh agama untuk berdoa sebelum makan/minum. Doa yang baik ternyata akan mampu merubah air/makanan menjadi sesuatu yang baik bagi tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian ini sungguh menyadarkan kita bahwa ucapan, pikiran dan perbuatan yang tidak baik ternyata mampu mengalirkan energi negatif yang merubah segala sesuatunya menjadi tidak baik. Peristiwa tsunami di Aceh adalah bukti bahwa alam (air) telah merespon segala ketakutan, kemarahan, kesedihan rakyat aceh selama berpuluh-puluh tahun. Akibatnya adalah air merespon secara negatif dan berbalik menghantam mereka sendiri.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu marilah kita berhati-hati! apalagi tubuh kita sendiri ternyata terdiri dari 70% air. Jika kita memiliki pikiran negatif maka air dalam tubuh kita juga akan membentuk pola yang negatif. Akibatnya malah bisa menimbulkan penyakit atau masalah lainnya. Tidaklah mengherankan jika stress ternyata memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap timbulnya penyakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan penemuan yang brilian ini, kini saatnya bagi kita semua memiliki pikiran yang positif! Pikiran positif akan memancarkan gelombang energi dalam diri kita sendiri sehingga kesehatan akan semakin baik karena air dalam tubuh kita akan membentuk pola energi yang baik juga. Demikian gelombang energi positif ini akan mempengaruhi lingkungan sekitar kita hingga berdampak positif bagi kita. Hasilnya adalah kesuksesan hanya akan terjadi jika kita berpikiran positif! : rejeki tambah lancar, keluarga harmonis dll. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka sesungguhnya kita akan mampu menghambat energi negatif yang akan menghantam kita, entah berupa penyakit, stress, sihir dll. Hal ini telah dibuktikan pula oleh Masimoto yaitu air yang telah diberi doa/kalimat positif ternyata masih tetap membentuk kristal meski kemudian diperdengarkan kata-kata negatif. Jadi tunggu apa lagi !?? berpikirlah positif mulai sekarang!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sumber : Buku "The True Power of Water" (Dr. Masaru Emoto)&lt;/i&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-4846255171032476007?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/4846255171032476007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/02/rahasia-dahsyat-kekuatan-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4846255171032476007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/4846255171032476007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/02/rahasia-dahsyat-kekuatan-air.html' title='Rahasia Dahsyat Kekuatan Air'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-69409005352309592</id><published>2010-01-13T18:55:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T19:46:48.376-08:00</updated><title type='text'>Apa Itu Marching Band?</title><content type='html'>Marching band adalah istilah dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada sekelompok barisan orang yang memainkan satu atau beberapa lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik (tiup, perkusi, dan sejumlah instrumen pit) secara bersama-sama. Penampilan marching band merupakan kombinasi dari permainan musik (tiup, dan perkusi) serta aksi baris-berbaris dari pemainnya. Umumnya penampilan marching band dipimpin oleh satu atau dua orang komandan lapangan dan dilakukan baik di lapangan terbuka maupun lapangan tertutup dalam barisan yang membentuk formasi dengan pola yang senantiasa berubah-ubah sesuai dengan alur koreografi atas lagu yang dimainkan, dan diiringi pula dengan aksi tari yang dilakukan oleh sejumlah pemain bendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marching band umumnya dikategorikan menurut fungsi, jumlah anggota, komposisi dan jenis peralatan yang digunakan, serta gaya atau corak penampilannya. Pada awalnya marching band dikenal sebagai nama lain dari drum band. Penampilan marching band pada mulanya adalah sebagai pengiring parade atas perayaan ataupun festival yang dilakukan di lapangan terbuka dalam bentuk barisan dengan pola yang tetap dan kaku, serta memainkan lagu-lagu mars. Dinamika keseimbangan penampilan diperoleh melalui atraksi individual yang dilakukan oleh mayoret, ataupun beberapa personil pemain instrumen. Namun saat ini permainan musik marching band dapat dilakukan baik di lapangan terbuka ataupun tertutup sebagai sebagai pengisi acara dalam suatu perayaan, ataupun kejuaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi musik yang dimainkan marching band umumnya bersifat lebih harmonis dan tidak semata-mata memainkan lagu dalam bentuk mars, ragam peralatan yang digunakan lebih kompleks, formasi barisan yang lebih dinamis, dan corak penampilannya membuat marching band merupakan kategori yang terpisah dan berbeda dengan drum band yang umumnya memiliki komposisi penggunaan instrumen perkusi yang lebih banyak dari instrumen musik tiup. Tipikal bentuk dan penampilan drum band yang paling dikenal adalah drum band yang dimiliki oleh institusi kemiliteran ataupun kepolisian. Adaptasi lebih lanjut dari penampilan marching band di atas panggung adalah dalam bentuk brass band.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini marching band telah merambah ke berbagai yayasan-yayasan, perusahaan, bahkan telah menjadi kegiatan eksta di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Contohnya seperti di UNS Surakarta, perguruan tinggi negeri ini telah memiliki sebuah unit marching band dari tahun 1988 yang bernama Marching Band Sebelas Maret Surakarta, dahulu merupakan sebuah unit drum band namun seiring perkembangan jaman nama drum band diubah menjadi marching band. Hingga sekarang ini dan telah mengikuti berbagai event baik tingkat lokal maupun nasional. belajar dan mengikuti proses latihan di marching band sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman yang berharga, kita bisa melatih otot sekaligus kedua otak kita (kiri dan kanan) dan yang paling terasa selama kita menjalani prosesnya ialah rasa kekeluargaan yang kental. Kita berlatih bersama, merasakan capek susah senang sama-sama, dari situ tumbuh perasaan satu hati yang kemudian diaplikasikan ke dalam sebuah pergelaran. Motto yang paling populer dalam sebuah unit marching band adalah:"ONE BAND,ONE SOUND,ONE SOUL".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah bergabung dengan sebuah unit marching band dan rasakan sensasinya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-69409005352309592?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/69409005352309592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/apa-itu-marching-band.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/69409005352309592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/69409005352309592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/apa-itu-marching-band.html' title='Apa Itu Marching Band?'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-5276705593049972991</id><published>2010-01-12T08:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T08:13:33.946-08:00</updated><title type='text'>Legenda Sangkuriang Dalam Falsafah Sunda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Menurut Hidayat Suryalaga atau yang dikenal dengan Abah Surya, mantan Rektor Itenas Bandung, legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (sungging perbangkara) bagi siapa pun yang (tumbuhan cariang) masih bimbang akan keberadaan dirinya, dan berkeinginan menemukan jati diri kemanusiaannya (wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (teropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi kebimbangan yang terus (digagahi si Tumang) akan melahirkan ego, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang).&lt;br /&gt;Ketika sang nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang), maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami sang nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio sang ego (kepala Sangkuriangdipukul). Kesombongannya pula yang memengaruhi sang ego rasio untuk menjauhi dan meninggalkan sang nurani. Ternyata, keangkuhan sang ego rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah timur), pada akhirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak selalu dicari dan dirindukannya, yaitu sang nurani (pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).&lt;br /&gt;Walau demikian, ternyata penyatuan antara sang ego rasio (Sangkuriang) dengan sang nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya, sang ego rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency silih asih, asah, dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum).&lt;br /&gt;Sementara itu, keutuhan jati dirinya pun harus dibentuk oleh sang ego rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan sang ego rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberadaannya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang ego rasio pun harus menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri), dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang, dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (Gunung Burangrang).&lt;br /&gt;Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya sang ego rasio dengan sang nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rangrang atau kain kafan). Akhirnya, suratan takdir yang menimpa sang ego rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada dirinya. Maka, ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu&lt;br /&gt;Walau demikian, lantaran sang ego rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus sang nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara sang ego rasio dengan sang nurani. Tapi, ternyata sang nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami sang ego rasio (bunga jaksi).&lt;br /&gt;Akhir kisah, yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (Gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan, bahasa Sunda: hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu halal, bersih, dan bermanfaat (sanghyang tikoro: kerongkongan, genggerong). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-5276705593049972991?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/5276705593049972991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/legenda-sangkuriang-dalam-falsafah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5276705593049972991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5276705593049972991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/legenda-sangkuriang-dalam-falsafah.html' title='Legenda Sangkuriang Dalam Falsafah Sunda'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-7433194701953758252</id><published>2010-01-09T18:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-09T18:19:50.760-08:00</updated><title type='text'>Tentang Meester Cornelis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kabar Indonesia &lt;/span&gt;- Buat yang belum tahu, Meester Cornelis adalah sebuah kawasan di wilayah yang kini tergabung dalam Kotamadya Jakarta Timur. Kondektur bus-bus maupun metro mini yang lewat kawasan itu masih sering berteriak memberitahu penumpang bahwa angkutan itu sudah sampai di, "Mester, Mester."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ ada pasar yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Di sana juga ada kantor pos yang sudah berdiri sejak lama, stasiun kereta api, gereja, dan area militer, yang juga telah berdiri sejak Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Ya, itulah Meester Cornelis yang kini dikenal dengan nama Jatinegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatinegara atau yang dulu dikenal dengan nama Meester Cornelis adalah sebuah kawasan yang awalnya dimiliki seorang kaya bernama Meester Cornelis Senen, seorang asal Pulau Lontar, Banda, yang kemudian dikirim ke Batavia (sekarang bernama Jakarta) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1621.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Gereja-gereja Tua di Jakarta (terbitan tahun 2003), Adolf Heuken SJ mengungkapkan bahwa Cornelis Senen adalah anak dari keluarga yang cukup kaya dari Pulau Lontar, Banda. Cornelis Senen belakangan menjadi seorang guru agama Kristen. Pada tahun 1635, Cornelis Senen membuka sekolah, memimpin doa, dan membaca khotbah dalam Bahasa Melayu. Belakangan, dia juga memimpin khotbah dalam Bahasa Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat Cornelis Senen mendapat tambahan gelar Meester di depan namanya. Dia juga menjabat sebagai Kepala Kampung Banda di Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepuluh tahun melayani umat Kristen berbahasa Melayu dan Portugis, maka dia diangkat menjadi proponent, calon pendeta. Dia juga mengajar katekisasi (pelajaran sebelum seseorang di-sidi atau diteguhkan sebagai orang Kristen dewasa). Sayangnya, dia ditolak ketika hendak menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657. Bisa jadi, hal itu karena Cornelis Senen adalah seorang bumiputera dan bukan bangsa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Meester Cornelis Senen masih diberikan hak istimewa untuk menebang pohon di tepi Kali Ciliwung yang letaknya sekitar 15 sampai 20 kilometer dari kota Batavia (kawasan Jakarta Kota saat ini). Di tempat itu, dia juga mempunyai sebuah tanah luas penuh pepohonan pada tahun 1661. Kayu dari pohon yang ditebang, dikirim ke kota dengan cara dihanyutkan lewat Kali Ciliwung. Kayu-kayu itu kemudian dipakai menjadi bahan untuk membangun rumah dan kapal-kapal niaga. Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, kawasan itu menjadi suatu kotapraja tersendiri, bahkan Kota dan Kabupaten Bekasi sekarang, di zaman Hindia-Belanda masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini Jatinegara masih menyisakan bangunan-bangunan bersejarah, di antaranya Stasiun Kereta Api Jatinegara, Gereja GPIB Koinonia (dulu dikenal dengan nama Gereja Bethel), beberapa bangunan tentara milik TNI-AD, Kantor Pos Jatinegara, dan yang agak mengenaskan karena kurang terurus adalah bekas kediaman bupati (regent) yang terletak di dekat Stasiun Kereta Api Jatinegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mau tahu tentang sebagian sejarah Meester Cornelis yang kini bernama Jatinegara, saat ini dapat datang ke Kantor Filateli Jakarta di Jalan Pos No.2, Jakarta Pusat. Saat ini, di tempat tersebut sedang diselenggarakan Pameran Filateli Remaja yang pemenangnya akan dikirim untuk mengikuti Youth ASEAN Stamp (YAS) Exhibition 2007 di Singapura, Agustus mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran yang diadakan dari 29 sampai 31 Maret 2007, ditampilkan pula koleksi dari seorang filatelis senior asal Jatinegara, Jakarta Timur, yang merupakan koleksi court of honour dan bukan diikutkan dalam penilaian. Koleksi itu berjudul From Meester Cornelis to Jakarta Jatinegara. Dalam koleksi itu, ditampilkan prangko, kartu pos, dan sampul surat yang mempunyai cap (stempel) pos Meester Cornelis sejak akhir tahun 1800-an sampai cap (stempel) pos Jatinegara sampai tahun 1990-an. Termasuk pula cap (stempel) pos Djatinegara saat zaman pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah koleksi yang sarat sejarah dan patut untuk disaksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="color: rgb(129, 129, 129);font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;Oleh : Berthold Sinaulan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-7433194701953758252?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/7433194701953758252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/tentang-meester-cornelis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/7433194701953758252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/7433194701953758252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/tentang-meester-cornelis.html' title='Tentang Meester Cornelis'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5399127475650883402.post-5991866292211989928</id><published>2010-01-07T20:06:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T20:07:59.288-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musim gugur'/><title type='text'>Tahukah kamu</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSPIDER%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Century Gothic"; 	panose-1:2 11 5 2 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:53.95pt 81.0pt 35.95pt 81.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu kalau suhu udara di bumi telah meningkat 1,4 derajat celcius dalam 127 thn terakhir ini ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu bahwa gunung es di kutub akan mencair seluruhnya pada thn 2040 jika tingkat pemanasan global tidak dapat dikurangi saat ini ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu saat ini hanya terdapat 27 gunung es yang masih dapat diidentifikasi dari 150 yang tercatat pada thn 1910 ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu bahwa Industri diseluruh dunia menghasilakn 332 BMT gas CO2 setiap harinya ? ini diperkirakan 30 % lebih besar daripada kemampuan seluruh tumbuhan dimuka bumi ini untuk menyerapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu bahwa suhu permukaan air laut telah meningkat 0.6 derajat celcius dalam 25 thn terakhir dan tinggi air laut diseluruh dunia rata2x meninggkat sekitat 14 Cm dalam 10 thn terakhir ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu bahwa mundurnya AS dari Protokol &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kyoto&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; telah menyebabkan emisi gas buang CO2 bertambah 20 % dari perkiraan semula ? North America (US &amp;amp; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Canada&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;) menyumbang 36 % dari seluruh gas buang CO2 didunia ini. Tempat kedua diduduki uni Eropa dgn 13,2 % dan Cina berada ditempat ke 3 dengan 12.4 % berikutnya adalah Rusia + former ussr dengan 6,7 % dan Jepang dengan 5 %, negara terakhir yang masuk dalam kumpulan ini adalah India yang menghasilkan 3,3 % dan Korea Selatan dengan 2,4 %. Gabungan dari negara2 industri maju (24 negara) ini telah memberikan kontribusi 80 % gas karbon buangan dunia, sementara 20 % sisanya di bagi rata kepada 159 negara lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu EU adalah kelompok negara yg memberikan kontribusi terbesar bagi Global Restoration Program dengan mengalokasikan 220 milliar Euro dalam jangka waktu 10 thn. Target mereka adalah mengurangi gas buangan industri di negara EU dan penghijauan hutan2 dunia ? (Dalam kelompok ini Jerman adalah negara penyumbang terbesar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu UN memperkirakan 12 % penduduk dunia akan mengalami bahaya kelaparan akut, produksi pangan akan menurun 16 % diseluruh dunia, Grain Price (harga Pagan dalam bentuk biji atau bulir, termasuk padi, gandum, dll) akan meningkat 100 % pada thn 2010 ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu, Hasil observasi dan kalkulasi Ilmuwan menunjukan bahwa kalaupun manusia berhenti menggunakan fossil fuel dan menghentikan produksi pabrik2x sama sekali dan mematikan semua listrik didunia ini maka efek pemanasan global baru akan reda setelah 100 thn ? Berdasakran Wigley Model on Global Warming, bahkan jika manusia melakukan hal tersebut diatas maka pada thn 2100 (penelitian dilakukan pada thn 2000) suhu udara rata2 didunia akan meningkat 4 derajat celcius dan ketinggian air laut diseluruh dunia akan meningkat 30 Cm.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu bahwa Gunung Es besar di &lt;st1:place st="on"&gt;Greenland&lt;/st1:place&gt; mencair semua maka ketinggian air laut akan naik mencapai 7 meter ? Dengan tingkat suhu sekarang maka hanya dibuthkan pertambahan 3 derajat celcius pada pemanasan global, dan dengan tingkat pertambahan suhu saat ini paling tidak dalam waktu 50 thn maka suhu itu akan tercapai. Dengan suhu rata2x 5-6 derajat celcius maka seluruh gunung es di green land akan sepenuhnya mencair dalam waktu 37 thn.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahukah kamu bahwa Es di kutub utara telah hilang hampir 60 % nya ? Pada thn 1979, musim panas di kutub utara menunjukan bahwa Arctic ice memiliki luas sebesar 6,74 juta Km persegi. Pada thn 2007, musim panas dikutub utara menunjukan hasil 2,61 Juta Km Persegi ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berapakah yg tersisa pada thn 2035 jika trend ini berlanjut ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;0 Km Persegi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SAVE THE WORLD, ACT NOW !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5399127475650883402-5991866292211989928?l=daribowo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://daribowo.blogspot.com/feeds/5991866292211989928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/tahukah-kamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5991866292211989928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5399127475650883402/posts/default/5991866292211989928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://daribowo.blogspot.com/2010/01/tahukah-kamu.html' title='Tahukah kamu'/><author><name>Dwi Ari Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04359340814485658002</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-kJmeHAXuKPM/Tql_0GXBr7I/AAAAAAAAAFc/MN7-O6m7qzM/s220/sk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
